Eps 40. Maut Mengintip di Lapangan Bubat

PENDEKAR Padi Emas melangkah menyusuri  jalan berbatu di Trowulan. Seperti biasa, ibukota Kerajaan Majapahit ini ramai oleh lalulalang penduduknya.  Sebagai kota terbesar di Jawadwipa, tak mengherankan jika Trowulan menjadi daya tarik utama, bukan hanya masyarakat biasa, namun juga berbagai tipe pedagang yang datang dari berbagai daerah.

Kios gerabah yang dituju letaknya tidak jauh, dan Pendekar Padi Emas merasa tidak perlu terburu-buru. Dia mencoba menikmati setiap denyut yang terasa di kota ini. Dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba merasakan aroma sebuah kota. Selalu menyenangkan bisa berada di kota, pikirnya.

Dia terus melangkah, menikmati dan meresapi pemandangan. Hingga dia merasa ada sesuatu yang salah.

Eps 39. Utusan Para Pembawa Kegelapan

GULITA malam memeluk ribuan pepohonan yang memenuhi hutan di bibir tebing yang berbatasan dengan sebuah samudera.

Mohiyang Kalakuthana melangkah keluar dari pondok kayu yang terletak di hutan tersebut. Beberapa tombak di belakangnya, Kiran mengamati dengan waspada. Tangannya menggenggam selendang halus berwarna pelangi yang terikat di pinggangnya.

Kiran melihat Mohiyang berjalan dengan kecekatan yang mengagumkan. Tak tampak sama sekali bahwa usianya sudah lanjut. Dia melangkah cepat, hampir tanpa suara. Menunjukkan ketinggian ilmu yang dimilikinya.

Mohiyang telah meminta Kiran untuk membiarkannya mencari sumber suara dari luar pondoknya. Tapi tentu saja Kiran tak dapat membiarkan nenek tua itu melakukan hal tersebut sendirian. Segera setelah sosok Mohiyang tak lagi tertangkap oleh pandangnya, Kiran melangkah keluar pondok.

Kiran menajamkan pendengarannya. Diantara gerisik daun dan suara debur ombak, didengarnya dia dapat menangkap beberapa suara bersahutan dari arah kemana Mohiyang menuju tadi. Satu diantaranya jelas suara serak Mohiyang Kalakuthana. Kiran tak dapat menangkap jelas apa yang mereka percakapkan. Dia hanya dapat mendengar suara seorang laki- laki berkata “ serahkan… “ , disusul jawaban yang tak dapat tertangkap jelas kata- katanya dari Mohiyang Kalakuthana.

Kiran meningkatkan kewaspadaannya, sebab walau tak terdengar apa yang dipercakapkan, dari nada suaranya, Kiran dapat menangkap bahwa Mohiyang tak sepakat dengan apa yang dikatakan lelaki tersebut.

dark-forest

Kiran melangkah lagi sambil terus berusaha mendengarkan. Tapi tak lagi didengarnya suara percakapan. Rupanya percakapan itu tak panjang. Kiran bahkan baru berjalan sekitar tiga langkah ketika tiba- tiba terdengar suara “ akkhhhh… “ yang panjang dari beberapa orang, bersahutan hampir serentak , disusul suara bergedebukan seperti ada sesuatu yang berat terjatuh.

Kiran tak lagi berjalan kini. Dia melompat dan melayang dengan ringan, bersegera menuju arah sumber suara.

Saat dia tiba disana, Kiran melihat Mohiyang Kalakuthana berdiri diantara pepohonan. Di hadapannya, di atas tanah tergeletak lima lelaki berpakaian hitam. Kesemuanya telentang dengan darah mengalir keluar dari hidung dan mulut mereka.

Eps 38. Airmata Dewa yang Murka

MALAM datang seperti mimpi. Kegelapan menyelimuti persada, menghadirkan bayang-bayang mistis, seperti penari yang datang dari alam lain.

Dhanapati dan Kaleena baru saja menyantap ayam hutan panggang. Ayam hutan itu ditangkap Dhanapati ketika dia mencari sumber air. Ayam hutan jantan yang lumayan besar. Dan ternyata rasanya gurih. Dagingnya lembut kendati terasa agak tawar.

“Kelihatannya akan hujan,” kata Kaleena sambil menatap langit. Tak satupun bintang yang terlihat. Awan mendung pekat seperti cendawan raksasa yang menutupi cakrawala.

“Iya, ayo kita cari tempat untuk berteduh,” kata Dhanapati. Di hutan seperti ini, sangat kecil kemungkinan untuk mendapatkan tempat berteduh. Namun Dhanapati berharap bisa menemukan kuil atau candi, atau setidaknya sebuah dangau sederhana.

Namun alam rupanya menghendaki lain. Belum sempat keduanya beranjak, rintik hujan sebesar biji jagung turun ke bumi. Awalnya hanya beberapa. Namun seketika menjadi semakin banyak. Hujan lebat turun bagai airmata dewa yang murka.

Eps 37. Kabar Tentang Kalung Yang Dicuri

GEMERISIK dedaunan, suara serangga dan debur ombak meningkahi malam.

Mohiyang Kalakuthana duduk di tepi dipan, menatap tajam pada Kiran yang tangannya sudah terjulur hendak membuka kait pintu.

" Mau kemana, cah ayu? " tanya Mohiyang, sang ratu racun, pada Kiran.

Kiran memberikan isyarat. Menunjuk ke arah luar. Dengan segera Mohiyang Kalakuthana mengerti maksud Kiran. Dengan kecepatan dan kecekatan yang mengagumkan mengingat umurnya yang sebetulnya sudah tua, Mohiyang Kalakuthana turun dari dipan dan dalam sekejap telah berada di samping Kiran.

" Mundur, cah ayu, " desis Mohiyang pada Kiran, " Biar kutangani mereka... "

Kiran menurut. Dia mundur selangkah, namun dengan sikap tetap waspada. Dengan cepat dia mengeluarkan sehelai selendang berwarna pelangi dari balik kain yang dia gunakan dan mengikatkan selendang tersebut di pinggangnya...

Eps 36. Jalan Pedang Lu Sekai

“Bersikap tenang,” bisik Dhanapati. “Tetaplah menunduk. Kita harus bersikap seperti petani dari desa...”

Derap kuda makin mendekat. Ada sembilan penunggang kuda yang datang bagai badai. Seperti yang diduga Dhanapati, para penunggang kuda ini hanya melirik sekilas dan dalam sekejap mereka lenyap.

Walau hanya lewat dalam sekelebat, namun mata Dhanapati yang tajam sempat menyimak. Dan dia terkejut.

“Hmmm... Aneh sekali,” gumam Dhanapati. “Mereka itu, ada yang dari Aliran Batu Hitam, Padepokan Bambu Hijau, Perkumpulan Melati dan Pesanggrahan Keramat. Bagaimana keempat kelompok yang berbeda itu bisa berjalan bersama?”

“Aliran Batu Hitam? Padepokan Bambu Hijau? Kamu bicara apa?” bisik Kaleena. Suaranya terdengar bergetar, pertanda rasa tegangnya belum sepenuhnya sirna.

“Di Jawadwipa, setiap aliran atau perkumpulan silat punya ciri khas tersendiri, yang juga menjadi semacam tanda pengenal bagi pihak lain,” jelas Dhanapati. “Aliran Batu Hitam misalnya, mereka biasa tampil dengan busana serba hitam dengan sabuk warna putih yang melintang di dada. Padepokan Bambu Hijau berpakaian serba hijau dan menggondol bambu hijau yang dijadikan senjata. Perkumpulan Melati mengenakan penutup kepala yang terbuat dari rangkaian bunga melati. Pesanggrahan Keramat, pada kedua lengan digambari lukisan ular berkepala tiga yang melingkar. Tapi sepanjang yang aku tahu, keempat kelompok itu tak pernah bekerja sama. Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi satu rombongan dan mengejarmu?”

Kaleena mengangkat bahunya. “Bagaimana aku tahu? Aku juga pendatang di sini, ingat? Tapi, bagaimana kau bisa mengetahuinya? Jadi benar dugaanku, kau pasti bukan pemuda biasa...”

“Aku tahu, karena dulu pekerjaanku mengharuskan aku mengenal semua perkumpulan dan kelompok beladiri di Jawadwipa dan sekitarnya. Tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi...”

“Apa yang terjadi?”

Eps 35. Kisah Surti dan... Prabu Wijaya?

DHANAPATI menggerakkan tubuhnya. Gadis itu menghimpitnya, dan pemuda itu dapat merasakan hembusan nafas gadis itu yang seperti memburu.

“Aku tidak gila, nona. Hanya dengan cara itu kau bisa melepaskan diri dari para pengejar...”

Kaleena mundur selangkah, menatap Dhanapati. Tatapannya tajam, seperti ingin mengiris tubuh.  “Bicaralah. Aku mendengarkan...”

“Begini,”  Dhanapati berujar pelan, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Melihat tatapan Kaleena, pemuda itu tahu, jika dia salah bicara, nyawanya mungkin akan melayang. “Setiap wilayah, setiap daerah, punya adat dan kebiasaan masing-masing. Di sini, di Jawadwipa, kita terbiasa tidak mengenakan penutup tubuh di bagian atas. Ini berlaku tidak hanya laki-laki, namun juga perempuan. Mungkin berbeda dengan daerah lain, namun di sini, bukanlah sesuatu yang melanggar norma kesusilaan jika perempuan tidak mengenakan penutup tubuh bagian atas....”

Dhanapati menatap Kaleena. “Kau pasti telah melewati beberapa dusun sebelum tiba di sini bukan? Berarti kau telah melihat bagaimana perempuan di Majapahit berbusana. Sebagian memang sudah mengenakan penutup dada, namun masih banyak yang tidak....”

“Dan kau ingin aku berpura-pura menjadi perempuan Jawadwipa?”

“Benar. Jika ingin meloloskan diri dari para pengejar, kau harus menyamar. Mereka mencari perempuan asing yang mengenakan pakaian merah warna-warni. Mereka pasti tidak akan menyangka kalau penampilan perempuan yang dikejar sudah berubah...”

Kaleena menarik nafas panjang, menimbang-nimbang. “Rasanya kau benar. Tapi... Aku harus ke kota raja, dan menyerahkan persembahan untuk Raja Majapahit. Bagaimana aku bisa ke Trowulan dengan setengah telanjang?”

Eps 34. Malam Pekat Di Tepi Samudera

MALAM menjelang.


Kota Trowulan masih tampak ramai. Kereta kuda berlalu lalang di sana sini. Di pendopo sebuah rumah yang terletak di pusat kota, tampak beberapa orang duduk bersila.


“ Berangkatlah kalian sekarang, “ seorang laki- laki berkata, “ Pastikan bahwa kalian dapat membawanya ke hadapanku dalam keadaan hidup dan selamat. “


Seorang perempuan dan seorang laki- laki yang duduk di hadapannya mengangguk tanpa menatap mata lelaki tersebut.


“ Baik, Ketua Muda, “ terdengar suara lirih perempuan.


Lelaki yang disapa sebagai Ketua Muda berkata, “ Durgandini, kau dan Rakai Wanengpati pernah gagal membawanya kemari. Bukan hanya gagal, tapi Ki Brengos bahkan terbunuh. Jangan sampai kali ini kalian membuat kesalahan dan gagal lagi. Tugas kali ini lebih mudah. Berikan suratku pada Mohiyang Kalakuthana, berikan juga uang emas ini, “ Ketua Muda menunjuk sebuah kantong yang tampak penuh, “ Dan bawa gadis itu kemari. “


“ Baik, Ketua Muda, “ kali ini bukan Durgandini, tapi laki- laki yang bernama Rakai Wanengpati yang menjawab, “ Kami akan laksanakan perintah Ketua Muda. “


“ Aku mau dia sampai di hadapanku dengan hidup, selamat, dan... utuh, “ Ketua Muda menekankan kata utuh.


Muka Rakai Wanengpati memerah. Ketua Muda rupanya tahu benar bahwa dia selalu mengantungi Paraga Gayuh Tresna ( Serbuk Perangsang Asmara ) kemanapun dia pergi serta tak pernah melepaskan kesempatan untuk menggunakan serbuk tersebut.


Sekilas Rakai Wanengpati teringat pada tiga orang gadis yang sempat terkena Paraga Gayuh Tresna tapi kemudian ditinggalkannya.


Entah apa yang terjadi pada para gadis itu. Mungkin juga mereka sudah gila sekarang, pikir Rakai Wanengpati.

Eps 33. Putri Kaleena, dari Seberang Lautan

DHANAPATI mengangkat kepalanya, merasakan kesegaran yang memenuhi segenap pori-pori. Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding berendam di sungai yang jernih.

Setelah menerobos belantara, Dhanapati menemukan sungai yang sangat jernih. Sungai kecil yang meliuk seperti ular. Dhanapati tak dapat menahan diri untuk terjun dan menikmati kesegaran yang ditawarkan sungai itu.

Butiran air menetes ketika Dhanapati keluar dari sungai. Dia mengibaskan tubuhnya sejenak, merentangkan tangan dan menarik nafas panjang. Dia merasa segar. Sangat segar. Dia dapat merasakan dorongan semangat dari dalam tubuh.

Sekarang aku harus mencari cara untuk memulihkan tenaga sakti, pikirnya. Setelah tenaga sakti dan ilmu kanuragannya pulih seperti semula,  yang harus dilakukan adalah mencari cara untuk membalas dendam.

Dhanapati mengertakkan giginya.

Dendam.

Dendam itu yang membuatnya bisa bertahan hingga kini. Dendam yang merasuk hingga ke tulang sum-sum dan menanti saat yang tepat untuk pelampiasan.

Dhanapati sepenuhnya sadar, dendam  tak akan mengembalikan miliknya yang hilang. Pembalasan tak akan mampu mengembalikan kebahagiaannya yang kini menguap bagai ditelan awan. Pelampiasan dendam tak akan mampu menghidupkan istri dan anaknya. Dia juga tahu, dendam itu ibarat mereguk air bercampur garam. Untuk sejenak, dahaga seperti terpuaskan, namun tubuh akan kembali haus. Dan haus.

Mereka telah merebut milikku yang paling berharga, desisnya. Sekarang aku harus membuat mereka merasakan apa makna sebenarnya dari kehilangan!!

Eps 32. Gelombang Dari Tempat Jauh

OMBAK berdebur tanpa henti, lidahnya menjilat- jilat tepi tebing. Sementara itu, tinggi di atasnya, di sebuah pondok di tengah hutan berbatas tebing di tepi samudera tersebut, seorang nenek tua terus sibuk meracik dan menumbuk beragam daun, bunga dan biji- bijian.


Nenek itu, Mohiyang Kalakuthana, terkenal sebagai si ratu racun di kalangan para pendekar. Keahliannya meracik racun tak tertandingi selama berpuluh tahun terakhir.


Mohiyang Kalakuthana sendiri gerak- geriknya masih sangat gesit. Dia tak pernah lupa meminum jamu- jamuan yang racikannya sendiri setiap hari. Hal yang membuatnya awet muda.


gelombang



Nenek itu terus menumbuk, sampai suatu saat geraknya terhenti ketika dia mendengar suara derit dari dipan disampingnya.


Kiran bergerak sedikit, tapi dia masih tertidur. Mohiyang Kalakuthana mengamati gadis itu sejenak lalu meneruskan pekerjaannya.


Tak ada yang perlu dikuatirkan. Napas Kiran tampak teratur. Artinya, obat bius yang diberikannya pada Kiran tepat ukurannya. Tak kurang, tak lebih. Cukup untuk membuat Kiran tak sadarkan diri tapi tak berlebihan hingga membahayakan jiwanya.


Pesan yang diterima Mohiyang Kalakuthana memang dengan jelas dan tegas meminta agar mereka menculik Kiran hidup- hidup. Dan itulah yang dilakukan Mohiyang. Kiran tak terluka sedikitpun. Dia tertidur dan dengan mudah setelah itu tubuhnya dipanggul oleh Pendekar Mata Naga yang bersembunyi di dekar rumah dimana Mohiyang berada serta merintih- rintih agar terdengar oleh Kiran.


Pendekar Mata Naga pulalah yang dititipi oleh Mohiyang Kalakuthana untuk menyampaikan pesan bahwa Kiran telah tertangkap pada orang yang memberikan perintah baginya untuk menangkap Kiran.



Eps 31. Sapu Tangan Beracun

TOKO bahan baku jamu dan obat- obatan itu ramai, seperti biasa.


Seusai mengunjungi Pawon ManteraKata, Pendekar Misterius dan keluarganya mampir ke toko bahan jamu dan obat yang juga terletak di dekat pasar dimana Pawon ManteraKata berada. Toko tersebut terletak berselang beberapa toko saja dengan Pawon ManteraKata.



Nyai Daunilalang berkeliling ruangan dan mengamati kotak- kotak bahan jamu di hadapannya. Dia membutuhkan beberapa bahan untuk persediaan di Padepokan Rumah Kayu. Tak berapa banyak jumlahnya,  tapi dalam kesempatan mengunjungi toko tersebut dia memang selalu menyempatkan diri untuk berkeliling toko. Nyai Daunilalang  senang berada di sana. Keharuman beberapa bahan jamu yang segar menyenangkan hatinya.

Nyai Daunilalang sendiri saja memasuki toko tersebut. Keluarganya menanti di luar.

Pekarangan toko tersebut luas. Pradipta yang segan turut masuk ke dalam toko bermain di sana. Pendekar Misterius juga ada di sana, duduk di bawah sebuah pohon sambil memangku Nareswari, sementara mbok emban mengawasi Pradipta bermain sambil menggendong Nareswara.


Pendekar Misterius bersenda gurau dengan bayinya. Menunjukkan ini dan itu. Ayam- ayam yang melintas di pekarangan, kereta kuda, dan beragam hal lain. Bayi yang lucu itu tertawa- tawa dan mengoceh riang, “ Ta.. ta.. ta... ta.. ta... “ katanya dengan sangat menggemaskan.


saputangan


Saat dia sedang bergurau dengan putrinya itulah tampak seseorang memasuki pekarangan toko.


“ Pendekar! “ seru orang yang tampak sangat tergesa- gesa itu memanggil Pendekar Misterius.


Pendekar Misterius menoleh, lalu tertawa lebar, lalu berdiri menyambut lelaki yang datang.


Ketika itu Nyai Daunilalang keluar dari toko dan berjalan menuju bangku dimana suami dan putrinya berada. Dia tiba di sana pada saat yang hampir bersamaan dengan lelaki yang baru datang itu.


“ Pendekar Wolu Likur! “ Nyai Daunilalang menyapa lelaki itu. Senyum lebar tampak di mukanya. “ Kami baru saja tadi mengunjungi Pawon ManteraKata... “


Lelaki yang disapa dengan Pendekar Wolu Likur itu mengangguk. “ Ya Nyai. Maaf tidak sempat bertemu tadi. Aku baru saja tiba di sana. Dan ini dari istriku, kipas Nyai ketinggalan, katanya. “

Eps 30. Hanya dengan Kematian

DI puncak pohon tertinggi, Putri Harum Hutan mengamati sekitar. Mencoba mencari petunjuk. Namun hutan begitu luas. Bagaimana dia bisa mendapatkan jejak Kiran?

Putri Harum Hutan terus mengamati, mencoba mencari pertanda. Kiran hilang belum begitu lama. Jadi seharusnya penculik itu masih belum jauh.

Dan tiba-tiba, di sebelah timur, Putri Harum Hutan melihat sekelompok burung yang terbang berhamburan. Seperti dikagetkan oleh sesuatu.

Mata Harum Hutan bersinar. Mungkin itu petunjuk. Pasti ada alasannya kenapa burung-burung itu terbang seperti ketakutan. Tentu, bisa saja mereka terbang karena faktor lain. Namun tetap ada peluang bahwa burung-burung itu kaget karena ada orang yang melintas.

Harum Hutan segera melompat. Mengerahkan laghima sarira yang membuatnya seperti terbang.

Kakinya yang mungil berkali-kali menjejak puncak pepohonan, menapaki ranting dan semak belukar. Dia dapat merasakan hembusan angin yang menerpa wajah.

Dan akhirnya dia tiba di tempat yang diperkirakannya menjadi lokasi yang membuat burung-burung terbang ketakutan.

Dia mengamati sekeliling.

Dan tidak percuma Putri Harum Hutan menghabiskan sebagian besar waktunya di hutan. Dia bisa mengetahui apa saja yang tidak wajar. Seperti rebahan semak belukar atau ranting pohon yang patah. Dia bisa mengetahui apa ciri-ciri semak yang rebah karena diterjang binatang, karena angin dan karena dilewati manusia. Dan dari bentuk rebahan, Harum Hutan menyimpulkan bahwa ada seseorang yang melewati semak ini. Karena semaknya masih segar, dipastikan waktunya belum lama.

Putri Harum Hutan berjalan mengikuti arah patahan semak. Dan tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang bersinar. Ternyata gelang yang terbuat dari batu kecil. Gelang milik Kiran!! Dia tahu persis karena beberapa kali melihat gelang ini ketika Kiran mengobati Dhanapati.

Putri Harum Hutan tersenyum girang. Gelang ini pasti sengaja dijatuhkan Kiran untuk menuntunnya. Kiran pasti tahu bahwa Putri Harum Hutan tak akan tinggal diam.

Semangat gadis itu bangkit. Dia kini berada di jalur yang benar!!

"Putri Harum Hutan, berhenti dulu!!"

Seorang laki-laki gagah perkasa tiba-tiba sudah berdiri di depan Putri Harum Hutan. Dia mengenakan pakaian kasar sederhana. Rambutnya panjang sebahu dan diikat kain berwarna hitam di dahi. Dia memegang sebilah pedang hitam kasar berkarat yang diletakkan di bahu.

"Ah, Pendekar Matanaga," Putri Harum Hutan berseru girang. "Ternyata kau. Kebetulan sekali. Kiran diculik. Ayo kita kejar penculiknya..."

"Aku sudah tahu kalau Kiran diculik," balas Matanaga. Tatapannya dingin.

Eps 29. Wayang Golek Tanpa Darah

PEMUDA itu perlahan menyeruput tuaknya, dan melirik. Jadi mereka itu yang disebut sebagai penghuni Padepokan Rumahkayu, pikirnya. Sekilas, mereka tak berbeda dengan orang kebanyakan. Nyai Daunilalang terlihat seperti ibu biasa. Mengenakan kemben berwarna biru, dia terlihat berbicara sambil sesekali tertawa lepas dengan mbakyu Tri. Sementara Pendekar Misterius, menyesuaikan diri dengan julukannya. Dia tetap mengenakan caping lebar yang membuat wajahnya tak terlihat. Dia juga terlihat lebih banyak menundukkan kepala.

Penghuni Padepokan Rumahkayu mendatangi Pawon Manterakata. Apakah hanya kebetulan? Pemuda itu mencoba menajamkan telinga, mencoba mendengar percakapan. Namun yang diperbincangkan Nyai Daunilalang dan Mbakyu Tri hanya percakapan dua orang ibu yang  mengagumi buah hati  masing-masing.

Hmm, aku ingin tahu bagaimana reaksi Bhagawan jika mengetahui penghuni Padepokan Rumahkayu kini ada di Trowulan, pikir pemuda itu, yang tak lain adalah Sancaka, orang keenam di Bhayangkara Biru. Sancaka secara khusus ditugaskan Bhagawan untuk mengamati Pawon Manterakata.

Eps 28. Pesan Dalam Kipas Kertas

Suatu pagi di Padepokan Rumah Kayu…



Nyai Daun Ilalang sedang sibuk bebenah. Suaminya yang di kalangan pendekar dikenal dengan sebutan Pendekar Misterius serta putra sulungnya, Pradipta, membantu sebisanya.

Mereka akan turun ke kota hari ini. Ke Trowulan.

Nyai Daunilalang gembira. Sejak melahirkan bayi kembar beberapa bulan yang lalu, dia jarang sekali bisa keluar rumah. Dan belum sekalipun pergi lagi ke Trowulan.

Untunglah sesekali beberapa pendekar datang berkumpul di Padepokan Rumah Kayu, sehingga Nyai Daun Ilalang tetap dapat berhubungan dengan mereka.

Nyai Daunilalang menyiapkan payung dan kipas untuk membantu menghindari terik sang Surya nanti. Hari panas terus menerus akhir- ahir ini. Baru semalam setelah beberapa hari panas turun hujan sejenak.

Ah, binatang- binatang di sekitar sungai tentu senang sekali, pikir Nyai Daun Ilalang, teringat pada binatang- binatang yang hidup di anak sungai yang mengalir di belakang padepokan.

Dia juga teringat pada sebuah syair indah tentang kodok dan hujan.

pagi, kodok nyanyi-nyanyi berpesta
hujan semalam menjagakan mereka
dari kerontang kemarau
menerpa payau


Nyai Daun Ilalang terus menyiapkan beragam hal. Dicarinya simpanan jeruk dan jahe yang sudah dikeringkan. Dibungkusnya hati- hati. Mbakyu Tri, sahabatnya pemilik kedai Pawon ManteraKata pasti senang menerima jeruk-jeruk dan jahe kering yang jika ditaruh dalam wadah akan menebarkan wangi segar ke seluruh ruangan itu.

Dan begitulah. Pagi itu mereka menumpang kereta kuda pergi ke Trowulan.

kipas



Eps. 27 Perpisahan Di Malam Gelap

Malam itu malam biasa, sama seperti yang lain. Bunyi jangkrik bersahutan, ditingkahi suara burung hantu. Di angkasa bintang gemintang samar disaput mega.

Malam itu malam biasa, tapi tak seperti biasa, Kiran gelisah dalam tidurnya.

Pada suatu saat dia terjaga dengan mendadak dan dengan segera bangkit, tak lagi berbaring tapi duduk. Hatinya berdebar. Dia baru saja bermimpi. Dalam mimpinya itu, Dhanapati berpamitan padanya.

“ Adik kecil, “ begitu sapa Dhanapati dalam mimpinya tadi, “ Ku kan pergi sekarang. Tak kan kutemui dulu engkau, karena aku ingin kau lepaskan diri dariku. “

Kiran merasa dadanya berdegup kencang. Dia melihat sekeliling. Putri Harum Hutan dan ketiga Dara tampak tertidur lelap.

elang2



Kiran berjingkat pelan menuju pintu. Dibukanya pintu pondok perlahan. Begitu dia berada di luar pondok, dengan cepat pandangnya menyapu sebuah dipan di dekat pintu dimana tadi dia berharap akan mendapati Dhanapati sedang tidur.

Dipan itu kosong.

Eps. 26. Sesuatu yang Lembut menyentuh Bibir

Malam itu malam biasa, sama seperti malam yang lain. Bunyi jangkrik bersahutan, ditingkahi nyanyian burung hantu. Di angkasa, bintang-gemintang samar disaput mega.

Hanya malam biasa. Namun Dhanapati sama sekali tak menyangka kalau malam itu akan mengubah hidupnya. Selamanya.

Awalnya, tak ada yang istimewa. Penugasan Bhagawan Buriswara untuk mencari keponakan Adipati Daha, Raden Purwadharma yang diculik juga bukan hal yang luar biasa. Mengejar penculik, bukanlah sesuatu yang memerlukan perhatian khusus. Karena itu, Bhagawan hanya menugaskan tiga anggota Bayangkara Biru untuk mengejar para penculik sekaligus menyelamatkan yang diculik.

“Keponakan adipati yang diculik adalah gadis yang cantik. Jadi kalian harus berupaya menyelamatkan dia malam ini juga. Jika menunggu besok, bisa saja para penculik berubah pikiran dan memilih untuk menjadi pemerkosa,”  kata Bhagawan ketika memberikan arahan di Pesanggrahan Langit, markas sekaligus tempat tinggal Bhayangkara Biru.

Seperti yang direncanakan, Dhanapati ditugaskan untuk menyelamatkan gadis yang diculik. Kedua rekannya, Bayu Segara dan Lembu Kapang menyamar sebagai prajurit yang akan membawa tebusan. Para penculik meminta 200 keping uang emas jika ingin gadis itu kembali utuh.

Di bawah temaram bulan sabit, Dhanapati berkelebat. Pengalaman bertahun-tahun membuat matanya terlatih. Dalam keremangan dia bisa mengetahui mana batu dan semak yang bisa dijajaki.

Menurut Adipati Purwadharma, para penculik meminta keping uang emas dibawa ke bukit Kranji, sekitar lima ribu tombak sebelah timur Gunung Arjuna. Artinya, gadis yang diculik pasti disembunyikan di suatu tempat di bukit Kranji.

Eps 1: Lebih Hitam dari Kegelapan

DHANAPATI tersuruk, melangkah limbung. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Sakit yang perih menusuk. Berdenyut berirama, irama kematian.

Dhanapati menggigit bibirnya. Sakit di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan sakit di hati. Dia menggigil.


Tak ada yang lebih menyakitkan dibanding dikhianati teman sendiri. Dikhianati oleh mereka yang selama ini dianggap sebagai saudara sejiwa. Senasib sepenanggungan.

Awalnya dia merasa heran melihat mantan rekannya dari Bhayangkara Biru mendatangi Dukuh Weru, tempatnya menetap selang satu setengah tahun terakhir. Mereka datang lengkap. Bahkan Bhagawan Buriswara, pemimpin Bhayangkara Biru yang biasanya jarang meninggalkan keraton juga ikut serta.

Semula Dhanapati mengira rekan-rekannya datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahannya, dan ikut gembira dengan kelahiran bayi laki-lakinya.

Namun perkiraan Dhanapati keliru. Sangat keliru.

Eps 25. Malam yang Mengubah Hidup

SENJA menangis. Hujan rintik menetes, seperti ikut merasa gundah. Sang Mentari pun seakan tak sabar untuk turun ke peraduan.

Keenam orang itu duduk di lantai batu, di pondok sederhana dari bambu. Tiga Dara menghidangkan masakan. Nasi putih yang mengepul diletakkan di daun pisang. Dilengkapi daging ayam hutan yang dibakar, dan sayur kangkung liar yang direbus.

Mereka menyantap makanan dengan nyaris tanpa suara.

“Sekarang ceritakan, bagaimana orang kelima di Bhayangkara Biru bisa terluka parah. Bagaimana kalian berdua bisa bertemu…” Putri Harum Hutan memecah kesunyian.

Dhanapati menghentikan gerakan jemari berisi nasi yang tadinya akan dimasukkan ke mulut.

“Bagaimana putri tahu kalau aku orang kelima di Bhayangkara Biru?” Pembagian di Bhayangkara Biru hanya diketahui segelintir orang. Di Bhayangkara Biru, selain Bhagawan Buriswara yang menjadi ketua, ada tujuh anggota. Dan masing-masing disapa anggota pertama, kedua dan seterusnya. Bhagawan Buriswara yang menentukan siapa yang dipanggil apa. Tapi Dhanapati tahu persis, di Trowulan, yang tahu bahwa dirinya adalah anggota kelima hanya segelintir orang. Jumlahnya tak sampai sepuluh orang. Bagaimana Putri Harum Hutan bisa tahu?

Eps 24. Hati Yang Retak

Udara tetap sejuk walau hari merangkak siang.

Sunyi terasa di sekitar pondok milik Putri Harum Hutan yang berada di balik sebuah air terjun. Keenam orang yang berada disana melakukan kegiatan masing- masing tanpa banyak bicara.

Setelah beberapa lama berlalu seperti itu, kesunyian tersebut dipecahkan oleh sang pemilik pondok.

“ Dara Biru, “ Putri Harum Hutan menoleh pada salah satu dari ketiga Dara, “ Ambil persediaan uang untuk perjalanan kita. Ambillah tiga kali lipat biasanya, sebab aku belum tahu pasti kemana kita akan menuju dan apakah kita akan melalui tempat- tempat dimana persediaan uang kita disimpan.”

Dara Biru mengangguk. Dia menuju ke sebuah pojok di dalam pondok dan kembali mendekati Putri Harum Hutan diiringi suara gemericing. Seperti yang diperintahkan oleh Putri Harum Hutan, diambilnya sejumlah mata uang emas dan perak, juga uang dari perunggu yang didatangkan dari Tiongkok yang disebut dengan uang kepeng untuk bekal di perjalanan.

Dada Kiran berdesir.

broken-heart



Eps 23. Melaksanakan, Bukan Mempertanyakan...

ANGIN berbisik lirih, seperti ingin mengusir rasa penat yang mengguyur keenam sosok yang duduk bersila. Mereka, lima lelaki dan satu perempuan tenggelam dalam keheningan. Mereka duduk di halaman berdebu, yang mengeras oleh pijakan kaki selama bertahun-tahun.

Mereka bersila di atas potongan kulit kambing yang dikeringkan, dan duduk berdasarkan urutan. Seperti yang sudah berlaku sejak hampir satu setengah tahun terakhir, ada satu potongan kulit kambing yang kosong. Tempat yang seharusnya diduduki Dhanapati, orang kelima di Bhayangkara Biru.

***



Seorang lelaki masuk, penuh kharisma, yang memaksa keenam sosok itu menengadah. Dia berwajah agung, paduan antara ketegasan dan keanggunan, dengan mata setajam elang dengan rahang yang kokoh.

Lelaki itu bertubuh tegap dan gagah, bagai beruang muda yang lapar. Dia mengenakan pakaian mewah  yang bagian dada kiri bersulam burung Garuda mengepakkan sayap. Mengenakan pakaian dengan sulaman burung Garuda adalah ide Bhagawan Buriswara, lelaki gagah itu, beberapa saat setelah ditunjuk Yang Mulia Mahapatih mengepalai Bhayangkara Biru, organisasi ‘rahasia’ yang bertugas memburu para musuh kerajaan dan musuh masyarakat.

Ide yang diungkap Bhagawan Buriswara awalnya dianggap sebagai keanehan. Saat itu, masyarakat Majapahit belum terbiasa mengenakan busana untuk tubuh bagian atas. Pria, wanita, bangsawan hingga rakyat jelata umumnya hanya mengenakan busana sebatas pinggang. Bagian atas dibiarkan terbuka. Para perempuan umumnya melengkapi tubuh bagian atas dengan sejumlah perhiasan, seperti kalung beraneka bentuk.

Bhagawan Buriswara ingin Bhayangkara Biru menjadi kelompok elit yang tak hanya dikenal karena perbuatan, namun juga oleh penampilan. Dia memberi warna baru untuk sebuah organisasi yang seharusnya rahasia, dan secara hukum tidak pernah diakui keberadaannya.

***



Bhagawan Buriswara duduk di sebuah batu kecil setinggi dua jengkal. Dan menatap keenam anggotanya. Mereka nampak letih, padahal Sang Surya baru saja terbit dari peraduannya.

“Jadi, Dhanapati masih hidup?” Buriswara membuka percakapan. Suaranya menggelegar. “Bagaimana mungkin seseorang yang terluka parah, yang sebelah kakinya sudah berada di akhirat bisa lolos dari kejaran dua anggota Bhayangkara Biru?” Bhagawan Buriswara menatap Brontoseno dan Kebo Wungu.

Eps 22. Kelopak Bunga Teratai

KAPUK putih melayang di angkasa.

Bersamaan dengan itu, kulit buah kapuk yang keras beterbangan menyerang ke satu tujuan.

Kiran.

Tapi Kiran saat itu telah terbungkus aman di dalam tameng berbentuk kepompong yang terbentuk dari selendangnya. Kulit buah kapuk itu berjatuhan setelah memantul di bungkus berbentuk kepompong tersebut.

Putri Harum Hutan mengibaskan tangannya lagi. Kali ini, duri- duri tajam beterbangan dari segala penjuru ke arah kepompong kain selendang yang membungkus Kiran.

Dhanapati menanti. Ditatapnya duri yang beterbangan itu. Jumlahnya begitu banyak dengan ketajaman dan kepanjangan yang beragam. Mungkinkah duri- duri itu akan dapat menembus kepompong selendang sutra Kiran?

Tiba- tiba, saat duri- duri tersebut berjarak sekitar dua tombak dari kepompong sutra, kepompong tersebut membuka dengan cara yang sungguh indah.

teratai



Kepompong itu membelah membuka serupa bunga teratai yang sedang mekar. Kiran berdiri di tengah- tengahnya, memegang sebuah kipas yang terbuka lebar..

Eps 21. Keharuman Pagi Berwarna Pelangi

SINAR Sang Surya mengintip malu- malu dari balik dedaunan.

Dasar jurang dimana Kiran dan Putri Harum Hutan sedang memasak itu terasa sejuk. Semilir angin pagi membelai pipi, dan menerbangkan anak- anak rambut. Gemuruh air terjun yang terdengar meningkahi sejuknya angin dan cericit burung membuat udara semakin dingin.

Tapi di dalam bilik bambu, pagi yang sejuk itu dibuka dengan kehangatan yang makin lama makin panas dan membara.

Dhanapati bertindak dengan sangat lembut dan hati- hati, tapi racun Paraga Gayuh Tresna rupanya terhirup sangat dalam oleh ketiga Dara.

Racun tersebut dengan cepat menyebar di seluruh aliran darah. Saat Dhanapati mendekat, Dara Merah menampilkan gerak dan bahasa tubuh sedemikian rupa yang dengan segera dapat menularkan aliran panas dan menggelitik pada seluruh tubuh Dhanapati.

Sementara itu tak jauh dari situ Dara Hijau dan Dara Biru duduk dengan sangat gelisah, tak sabar menanti.

kupu-pelangi1



Dara Merah menyerah dengan pasrah saat Dhanapati mulai menyentuh dan membelainya. Hangat nafas Dhanapati berpadu dengan hangat nafasnya sendiri. Kehangatan itu makin menjalar, menjalar, menjalar dan membara...

Sementara itu, sepasang kupu-kupu biru berkejaran di luar pondok, diantara harum bunga cempaka dan kenanga. Keharuman bunga- bunga itu berhamburan masuk menerobos bilik bambu dimana kenikmatan yang bergulung naik dan turun seperti ombak di samudera luas melemparkan jiwa ke awan- awan. Membubung tinggi, dan makin tinggi...

Gelombang itu bergulung lembut, menghangatkan rasa, lalu membara serta memanas ketika Dhanapati dan Dara Merah bergerak mendekat ke arah pijar Sang Surya. Pijar yang semakin panas kala mereka makin mendekat pada suatu titik ledak yang kemudian, saat mereka tiba di sana...

Blarrr...

Ledakan besar terjadi dan bintang-bintang berpendaran terhambur ke angkasa.

Berwarna-warni seperti percik bara api…

Eps 20. Erang Kenikmatan yang Menggoda

KIRAN merasakan kepungan Durgandini dan Rakyan Wanengpati makin ketat. Dengan sekuat tenaga dia bertahan. Kedua lengan yang masing-masing menggenggam selendang dan kipas digerakkan menurut Pasha Hakasa Papikat Rasatala (Jaring Langit Jala Bumi), jurus kesebelas dari ajian Sebya Indradhanu Paramastri.

Jaring Langit Jala Bumi adalah jurus untuk pertahanan. Gerakan kedua tangan mengeluarkan energi seperti  jaring, yang mampu menangkal semua serangan. Namun yang dihadapi Kiran kali ini adalah dua tokoh besar di dunia persilatan. Pengalaman mereka jauh dibanding Kiran.  Perbedaannya ibarat Gunung Batur dan Gunung Semeru. Kiran yang masih tergolong anak kemarin sore di kancah persilatan Jawadwipa kalah segalanya. Dalam sebuah kesempatan, tendangan Durgandini mampu menembus celah, dan mengena di perut.

Kiran berteriak kesakitan. Terlempar tiga tombak dan bergulingan di tanah.

“Sudah kami katakan, percuma melawan. Lebih baik kau ikut dengan kami dengan sukarela,” ujar Durgandini. Masih dengan suaranya yang bening. Dengan senyum manis. Bersama Rakyan Wanengpati, Durgandini mendekati Kiran yang terbaring di tanah.

Kiran merasa perutnya bergejolak. Organ tubuhnya terguncang. Tendangan Durgandini bukan tendangan biasa.

Namun dia tak mempedulikan rasa sakit. Dia justru menoleh ke  arah Dhanapati, dan terheran-heran melihat pemuda itu berdiri sambil menopang pedang. Entah bagaimana namun pemuda itu ternyata memenangkan pertarungan. Dhanapati hidup!!

Eps 19. Airmata Luruh Membasahi Neraka

FAJAR mulai menyingsing.

Pertarungan antara Kiran melawan Iblis Sapta Kupatwa masih berlangsung seru. Kiran yang dikeroyok, sama sekali tidak terdesak. Bahkan gadis cantik ini menjalani pertarungan dengan santai.

Setelah beberapa jurus, dia menyadari kalau ketujuh lawan ternyata tidak luar biasa. Jika mau, Kiran bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Namun itu tidak dilakukan. Kiran sengaja menggunakan lawan untuk mengasah kemampuan.

Seumur hidup, ini untuk pertama kali Kiran terlibat dalam perkelahian, melawan pihak yang benar-benar merupakan musuh. Selama ini dia mengolah kanuragan dengan ayah dan dua saudara lelaki. Karena hanya berlatih, pertarungan tak pernah dilakukan dengan serius.

Berbeda dengan kali ini. Pihak lawan bermaksud menangkapnya. Dia menghadapi lawan yang nyata.

Dia mengeluarkan jurus demi jurus, melihat bagaimana lawan kerepotan, dan di saat terakhir, dia mengubah jurus, tidak mau melukai lawan.

Kiran, yang masih menikmati pertarungan, kaget ketika melihat Dhanapati sudah berada di halaman. Lelaki itu berdiri siaga dengan pedang yang menyeret tanah.

Kenapa Dhanapati tiba-tiba keluar dari pondok? Pemikiran itu membuat Kiran memutuskan untuk secepatnya mengakhiri pertarungan, sebelum salah satu anggota Iblis Sapta Kupatwa menyerang Dhanapati!!

Eps. 18 Jawab Hujan Bagi Sang Surya

MALAM memeluk pekat di Trowulan.

Lidah api kecil di lampu cempor bergerak- gerak perlahan.


Di pojok kedai Pawon ManteraKata dua orang perempuan dan seorang lelaki terus berbincang, tanpa menghiraukan peringatan pemilik kedai bahwa kedai tersebut telah tutup. Suara tawa genit terdengar ditingkahi beberapa bisik dan gelak tawa.


Mbakyu Tri, pemilik kedai tersebut melangkah mendekati meja pojok untuk sekali lagi mengingatkan ketiga orang yang duduk di sana bahwa kedainya betul- betul sudah hendak ditutupnya sekarang.


Langkahnya tertahan saat dia mendengar beberapa buah kata disebutkan dalam percakapan di meja pojok itu.



Diurungkannya niat untuk menghampiri ketiga orang itu. Dibelokkannya langkahnya ke meja di samping mereka. Mbakyu Tri berpura- pura membereskan meja itu. Dibenahinya letak kain penutup meja. Digesernya wadah keramik berisi setangkai kembang sepatu merah sambil terus menajamkan telinga.

Dada mbakyu Tri berdebar. Dia telah menemukan apa yang dicari selama ini...



Eps 17. Kumbang Ganas Menggagahi Kembang

KETENANGAN. Dan ketepatan. Itu kunci dalam ilmu beladiri. Dan itu yang dilakukan Kiran. Dalam jurusnya yang pertama dia berhasil membuat lawan tak berdaya. Terbelit selendang.

Enam anggota Iblis Sapta Kupatwa terkejut bukan main melihat rekan mereka tak berdaya, mirip seperti tikus yang terjebak. Tak bisa bergerak.

Nyaris serentak keenam lelaki itu melompat. Tiga menyerang Kiran, tiga lainnya mendekati rekannya guna membantu membebaskan.

Dan kembali Kiran memperlihatkan ketenangan. Dengan dingin dia memutar tubuh. Di saat bersamaan dia melontarkan lelaki yang terbelit ke arah tiga rekannya.

Eps 16. Selendang Pelangi Para Bidadari

CAHAYA bulan menerobos di sela pepohonan.



Kiran bergerak maju dan meraih kait pintu. Didorongnya pintu itu hingga terbuka dan dia melangkah maju.

Tujuh orang lelaki yang berada di halaman sekitar Pondok Harum terpana sejenak. Sesaat lalu mereka masih berunding memikirkan cara untuk menyerbu masuk ke dalam pondok. Sama sekali di luar dugaan bahwa pintu pondok itu akan sengaja dibuka dari dalam seperti itu.

Seorang gadis berdiri di depan pintu. Rambutnya terikat menjadi satu di belakang kepalanya. Beberapa kuntum melati terselip di sekitar ikatan itu.

Dia berdiri di sana tanpa bicara. Diam menanti.

Angin berdesir halus di sekitar, membuat selendang sutra halus di pinggangnya bergerak perlahan. Cahaya bulan menyentuh selendang itu. Selendang itu berpendar mengeluarkan cahaya berwarna pelangi…

Eps 15. Para Pembawa Kegelapan

PETANG melarut menuju malam di Trowulan.

Sudah waktunya kedai Pawon ManteraKata tutup. Kedai itu memang hanya buka hingga petang hari.



Begitu Pendekar Codet, Matanaga dan Harimau Hitam meninggalkan kedainya, Hestrinaputri, sang pemilik kedai yang biasa disapa dengan nama Mbakyu Tri mulai membereskan peralatan makan serta cangkir- cangkir yang tersisa di atas meja. Setelah itu satu persatu kursi kayu digeser, dimasukkan ke bawah meja. Jendela- jendela juga mulai ditutup.

Dia baru saja hendak menutup pintu ketika tiga orang tamu menerobos masuk.


Mbakyu Tri menyambut tamunya dan berkata, “ Nyuwun sewu, maaf, tapi kedai ini sudah hendak tutup. “



Tiga orang tamu itu menoleh tapi tak memperdulikan apa yang dikatakannya. Persis seperti yang telah diduga sebelumnya. Ketiganya terus masuk ke dalam kedai dan duduk di sebuah bangku yang terletak di pojok kedai.

Mbakyu Tri mematikan beberapa lampu cempor, berharap bahwa mereka mengerti isyaratnya dan segera meninggalkan tempat itu tanpa dia harus mengatakan apa- apa lagi.


Tapi sama dengan yang telah beberapa kali terjadi sebelumnya, ketiga tamu itu tak perduli.

Eps 14. Bergerak dalam Diam

KEDUA lelaki itu saling pandang, berdiri dalam beku. Samar terdengar bunyi binatang hutan yang berpadu dengan gemercik sebuah pancuran kecil. Selebihnya hening. Hening yang mengandung hawa maut.

“Selama ini, aku, Panca Mahnakhah Mrityu (Lima Cakar Maut) tak pernah bersimpang jalan dengan Pendekar Harimau Hitam. Kenapa pendekar menghadang aku?” Seorang lelaki berusia 50-an tahun, tanpa rambut di kepala, dengan jenggot putih memanjang yang mata kanannya ditutupi kain berujar dingin.

Pendekar Harimau Hitam menatap lelaki yang mengaku bernama Lima Cakar Maut, merasa heran dengan julukannya karena jelas dia seorang diri. “Sahaya tak bermaksud menghadang siapa-siapa. Sahaya hanya bermaksud menolong seorang teman…”

“Apakah Putri Harum Hutan temanmu?”

“Sahaya mengenal Putri Harum Hutan. Dan dia mungkin mengenal sahaya. Namun kami bukan teman. Kami hanya dipersatukan oleh kepentingan yang sama…”

“Dan kau siap mati untuk seseorang yang bukan temanmu?”

“Sahaya siap mati karena membela yang benar, tak soal apakah dia teman atau tidak…”

Eps 13. Tamu Tak Diundang Datang Membelah Malam

PADA saat yang sama ketika Putri Harum Hutan serta ketiga Dara meninggalkan Trowulan dan melayang menembus kepekatan malam seperti peri hutan yang membelah angan, Kiran sedang menghirup air hangat dari cangkirnya di sebuah pondok di tengah hutan.


Pondok milik Putri Harum Hutan.


Malam sangat pekat. Kiran dan Dhanapati sedang bersantap malam. Sebentar lagi setelah makan malam, tiba waktunya bagi Kiran untuk mengobati Dhanapati.


Luka- luka Dhanapati bukan luka ringan. Karenanya pengobatan yang dilakukan Kiran padanya mengambil waktu terbanyak dalam keseharian mereka. Pagi, siang dan malam, kegiatan utama Kiran adalah melakukan pengobatan pada pasiennya itu.


Dari apa yang diceritakan Dhanapati, Kiran kini sedikit- sedikit sudah mengetahui mengapa Bhayangkara Biru mengejar Dhanapati. Dan apa yang diketahuinya itu melegakan hati. Paling sedikit dia tahu bahwa Dhanapati bukan penjahat. Dia dikejar karena dia mengundurkan diri dari keanggotaan Bhayangkara Biru untuk menikahi Sekar Wangi.


Perasaan Kiran campur aduk antara lega dan pedih mengetahui kenyataan ini.


Dia lega setelah mengetahui bahwa Dhanapati bukan penjahat. Tapi bahwa ada seorang istri dan bayi yang meregang nyawa tanpa dosa, tanpa tahu apa- apa sungguh mengganggu perasaannya.



Eps 12. Hujan Pedang Tanpa Suara

KEEMPAT gadis itu melayang menembus kepekatan malam, seperti peri hutan yang membelah angan. Nun jauh di sana, sang Purnama mengintip malu-malu dari balik mega.

Keempatnya berlari dalam formasi yang nyaris sama. Putri Harum Hutan berada di depan, dan tiga rekannya berjejer di belakang. Hanya sesekali mereka beriringan.

Dengan laghima sarira (ilmu meringankan tubuh) tingkat tinggi, tak sukar bagi mereka melintasi waktu. Kadang mereka berlari di pucuk pohon, terkadang menembus semak, atau menjejak permukaan rumput yang mulai basah.

Sepeminum teh sudah berlalu. Trowulan kini jauh di belakang, hanya berupa kerlip tidak nyata.

“Kenapa kita tidak mampir dulu ke rumah?” Gadis yang mengenakan busana serba hijau bertanya. Karena mereka selalu mengenakan warna pakaian yang identik dengan nama maka yang barusan berujar itu adalah Dara Hijau.

Eps 11. Bidadari Malam Menunggang Kegelapan

PEREMPUAN itu menengadah, merasakan aroma hangat yang memasuki indra penciuman.

Ah, aroma Kotaraja. Aroma Trowulan.

Dia selalu merasa takjub ketika menginjakkan kaki ke Trowulan. Sebuah kota yang menjadi lambang kemajuan. Sebuah kota di mana seseorang bisa mendapatkan apa saja. Ya apa saja.

Di sore seperti ini, pasar Trowulan riuh rendah. Dipenuhi manusia dari berbagai bangsa. Dengan berbagai tipe. Mulai dari pendekar, pendeta, resi, bangsawan, pedagang, petani, pengembara, penjilat, pemabuk, hingga budak. Mereka menjadi satu dalam pusaran kebutuhan. Kecuali, tentu saja, para budak yang hanya berdiri diam menanti dengan cemas siapa calon majikan.

Perempuan itu berjalan santai. Menikmati langkah demi langkah. Melihat dari kejauhan beberapa sosok yang dikenalnya, namun tidak melihatnya. Dilihatnya Pendekar Mata Naga dengan pedang berkaratnya. Sang pendekar sedang mengamati kayu cendana. Ada juga Pendekar Codet yang sama-sama berasal dari Swarnabhumi. Sampai sekarang, dia tidak mengerti kenapa pendekar yang berasal dari Ceumpa (Aceh) itu menyebut dirinya Codet padahal wajahnya sama sekali tidak menampakkan bekas luka.

Eps 10. Saat Perkenalan...

KIRAN membalikkan badan. Larut malam saat itu.

Dia berada di sebuah pondok kayu dimana semacam panggung berupa lantai yang ditinggikan berada di dalamnya. Lantai yang berjarak sekitar satu meter di atas tanah itu terbuat dari kayu jati, serupa dengan seluruh bagian lain pondok tersebut.

Disitulah, di panggung kayu jati itu Kiran berbaring di salah satu sisinya.

Di sisi lain terbaring seorang lelaki.

Mereka hanya berdua di dalam pondok itu. Sang pemilik pondok, Putri Harum Hutan tak berada di pondoknya. Dia sedang melawat ke Dharmasraya, ibukota kerajaan Melayu di Swarna Dwipa.

***



"Dhanapati"

Lelaki itu mengucapkan namanya untuk memperkenalkan diri ketika dia terjaga di pagi hari dan mendapati dirinya berada di sebuah pondok kayu bersama seorang gadis yang tak dikenalnya.


"Kirana."

Eps 9. Mata Seperti Berpasir

.............................................

“Terimakasih atas pertolongan tuan pendekar…”

“Tak apa tuan putri, itu sudah menjadi tugasku…”

“Ah, tuan pendekar tak perlu memanggilku tuan putri. Cukup Sekar saja…”

“Oh Baiklah tuan… eh maksudku Sekar. Dan jangan panggil aku tuan pendekar. Namaku Dhanapati…”

“Aku panggil kakang saja… Kakang lebih tua bukan?”

……………………………...............

“Sekar ingin belajar ilmu kanuragan. Kakang bisa membantu mengajarkan?”

“Boleh. Nanti jika sewaktu-waktu ditugaskan di sekitar sini, aku akan mampir…”

“Terimakasih kakang. Sekar senang sekali…”

……………………………………….....

“Sekar tak suka kalau kakang harus pergi secepat ini…”

“Aku juga, Sekar. Tapi kakangmu ini harus pergi. Ada tugas Negara yang menunggu…”

“Jangan lupa mampir lagi ya ‘kang?”

“Pasti. Itu pasti….”

……………………………………….....

“Sampai kapan kita seperti ini ‘kang?

Eps 8. Pondok Putri Harum Hutan

SUARA roda kereta dan derap kaki kuda membelah malam.

Kiran duduk di pojok kereta kuda yang ditumpanginya. Kereta mereka adalah salah satu dari beberapa buah kereta kuda yang beriringan berjalan dari Bukit Sangian menuju Trowulan.

Kereta- kereta itu memuat berbagai hasil bumi. Pemiliknya, Pendekar Padi Emas, adalah seorang saudagar yang setiap pekan menjual hasil bumi ke Trowulan.

Jalan yang ditempuh naik turun. Membuat kereta kuda yang mereka tumpangi berkali- kali terguncang.

Kiran menghapus matanya yang basah. Dia sangat kesal sehingga tak dapat menahan air matanya.

Mengapa aku membiarkan itu terjadi, pikir Kiran. Mengapa tak kudorong saja dia agar menjauh dan tak dapat menyentuhku ? 

Segera setelah tanya itu muncul, hatinya membantah: bagaimana mungkin aku mendorong dia? Dia masih dalam keadaan setengah sadar dan kekuatannya belum pulih, tak mungkin aku melakukan itu!

Kiran menggigit bibirnya. Sisa manis madu masih dapat terkecap di situ. Lidahnya menjilat bibir tersebut. Mencecap manisnya madu dan... mengenang...

Tidak. Kiran membantah pikirannya sendiri dalam hati. Tidak, aku tak menikmati kecupan tadi dan tak hendak mengenangnya.

Dan hatinya bertanya: benarkah itu? Benarkah kecupan tadi tak aku nikmati? Benarkah aku tak menginginkannya?

Kiran mengamati sebuah sudut lain di kereta kuda yang ditumpanginya. Sudut terjauh dari tempatnya duduk. Setelah peristiwa tak terduga itu, Kiran menggeser duduknya menjauh dari lelaki tak dikenal yang terbaring disana.

Lelaki itu tampan. Lekuk bibirnya indah, serta...

Hangat.

Kiran sungguh kesal.

***



Kereta berjalan menyusuri jalan yang mulai menurun.

Kiran mengamati sekitarnya. Bayangan pendopo kerajaan serta candi- candi di Kotaraja, Trowulan mulai dapat ditangkap oleh pandangnya.

Artinya sebentar lagi kereta mereka akan berbelok keluar dari rombongan.

Mereka memang tak akan turut serta ke Trowulan, tentu saja. Trowulan adalah kota dimana Bhayangkara Biru berpusat. Tak mungkin pergi ke sana sementara lelaki tampan yang selang beberapa hari terakhir ini berada dalam perawatan Kiran justru terluka karena berkelahi melawan para pendekar Bhayangkara Biru.

Dugaan Kiran tepat. Tak lama kemudian, kereta kudanya berbelok ke kiri memasuki jalan setapak, sementara rombongan kereta kuda lain berjalan terus.

Pendekar Padi Emas telah mengatur agar Kiran dan pasiennya yang tak diketahui namanya itu berada dalam kereta yang berjalan di ujung belakang rombongan. Selain itu, Pendekar Padi Emas juga telah mengucapkan mantera sehingga seluruh sais kereta tak menyadari turut sertanya Kiran dan lelaki tersebut dalam rombongan mereka. Tak pula sais yang mengemudikan kereta kuda yang ditumpangi Kiran.

Sais ini hanya memperoleh perintah khusus dari Pendekar Padi Emas untuk membelok keluar dari rombongan saat berada di sekitar hutan jati sebelum memasuki Kotaraja dan melanjutkan perjalanan masuk ke dalam hutan menuju pondok yang dimiliki oleh saudara sepupu pendekar Padi Emas, yakni Putri Harum Hutan.

wooden-house



Eps 7. Lelehan Madu Dalam Gulita Malam

BINTANG dan kunang-kunang menari.

Malam gelap gulita. Beberapa buah kereta kuda berisi berbagai hasil bumi berjalan beriringan.

Kiran duduk dengan posisi agak merunduk. Sesedikit mungkin orang yang melihat mereka, semakin baik.

Di hadapannya, terbaring seorang lelaki yang selang beberapa hari terakhir ini berada dalam perawatannya.  Laki-laki itu belum sepenuhnya sadar memang, tapi kondisinya stabil.

moon-and-star



Angin malam terus menyapu muka, membuat Kiran merasa bibirnya kering. Diambilnya sebuah wadah berisi madu dan dioleskannya madu  tersebut ke bibirnya. Diambilnya sedikit madu lagi yang lalu dioleskan ke bibir lelaki dihadapannya. Sekedar menjaga agar bibir itu tak kering dan pecah- pecah. 

***

Eps 6. Pisau Berkarat Menembus Kulit

SANG Surya mengintip malu-malu. Embun di dedaunan menetes perlahan. Burung mulai berkicau, seolah menyanyikan tembang tentang keabadian. Di kejauhan, kabut yang seperti untaian sutra perlahan mengembang bagai payung milik Dewata.

Pagi itu indah. Namun keindahan itu tidak dinikmati Pendekar Padi Emas. Lelaki itu duduk  di tengah halaman rumahnya. Duduk di sebuah kursi kasar yang terbuat dari batang kelapa. Di dekatnya ada meja sederhana. Setumpuk butiran emas berbentuk padi berserakan di atas meja.

Pendekar Padi Emas tak memperdulikan keindahan pagi itu, karena perhatiannya dicurahkan ke atas meja. Dia sedang asyik membentuk butiran emas menjadi pedang. Yang kemudian dibongkar dan dibentuk menjadi perahu. Dan daun. Dan bintang.

Tiba-tiba terdengar ringkik kuda. Belasan orang dengan gesit melompat dari kuda dan memasuki halaman.

Ah, akhirnya mereka datang juga.

Pendekar Padi Emas melirik sekilas. Ada 17 lelaki yang datang. Semuanya bertubuh tegap, gesit dan terlihat sangat percaya diri.

Buyut (kepala dukuh) termasuk di antaranya. Juga Akuwu (pemimpin beberapa dukuh) yang bernama Karta. Bertahun-tahun menetap di Jawadwipa membuat Pendekar Padi Emas yang berasal dari Swarnabhumi ini sudah mengetahui bagaimana struktur pemerintahan di Kerajaan Majapahit. Dia tahu, di atas Akuwu ada Wedana. Di atas Wedana ada Juru. Dan…

“Salam damai untuk Pendekar Padi Emas yang perkasa…” Akuwu Karta membungkuk hormat.

“Hmmm. Ada yang bisa saya bantu?” Pendekar Padi Emas berkata dingin. Matanya tetap diarahkan ke permukaan meja. Jemarinya membentuk butiran padi emas menjadi ikan.

“Eh… Em… Maaf kalau kami mengganggu. Kami sedang mencari dua orang buronan kerajaan. Seorang lelaki dan perempuan. Dan.. Eh.. Informasi terakhir menyebut kalau mereka berada di sini…” Akuwu Karta berkata setengah gagap.

Pendekar Padi Emas mengangkat wajahnya. Wajah yang tampan namun sangat dingin. Tatapannya seperti pisau berkarat yang menembus kulit.

“Mereka tidak berada di sini. Aku tidak menerima tamu seorang laki-laki dan perempuan…”

“Tapi… Em… Ada orang yang melihat mereka datang menjelang malam. Dan hingga saat ini kami tak melihat mereka meninggalkan rumah ini. Kuda mereka juga masih berada di kandang….”

“Jadi kau menganggap aku berdusta?”

Eps 5. Sang Surya Menanyakan Hujan

"Se..kar... Sekar Wangiii...."

Bisikan itu seperti datang dari alam maut. Lirih, nyaris tak terdengar. Kiran yang sedang meramu obat-obatan tertegun. Kaget. Dengan cepat dia menoleh ke arah lelaki itu. Pemuda itu masih terbaring. Matanya terpejam. Wajahnya merah padam.

Kiran mendekat. Pemuda itu bergerak gelisah.

"Sekar... Jangan... tinggal..kan akuuuu..."

Perasaan Kiran campur aduk. Pemuda itu mengigau, dan itu pertanda baik. Artinya dia telah melampaui masa kritis. Namun kata-kata yang terucap dari mulut pemuda itu membuat hati Kiran, entah kenapa, terasa seperti ditusuk. Siapa Sekar Wangi?

Kiran menyentuh dahi si pemuda, dan seperti dugaannya, dahi itu terasa panas. Juga tangannya. Dan tubuhnya. Gadis itu mengambil beberapa helai daun Jarak dan menempelkannya ke dahi dan ketiak.

Tiba-tiba terdengar suara mendehem. Seorang laki-laki setengah baya memasuki ruangan pengobatan. Dia berusia sekitar 60-an tahun, bertubuh sedang. Raut wajah lelaki itu bersih namun terlihat sangat serius.

Eps 4. Beribu Tanya di Bulan Purnama

BULAN penuh menerangi langit.

Suara kidung dan tawa riang kanak- kanak menghangatkan malam bulan purnama itu.

Kiran tersenyum. Dapat dibayangkannya bahwa di sebuah lapangan yang berada di tengah dukuh Wening anak- anak desa tersebut bermain bersama dengan gembira. Bulan purnama selalu membawa kesenangan pada mereka, sebab pada hari- hari semacam itu para orang tua mengijinkan anak- anak untuk bermain di luar di bawah siraman cahaya bulan.

purnama

Kiran sendiri masih duduk di samping seorang lelaki tak dikenal yang terbaring di hadapannya. Sejak sore tadi dia hampir tak beranjak dari sisi laki- laki tampan tak bernama tersebut.

Diluar kebiasaannya, Kiran tak hanya melakukan terapi dengan gelombang energi tanpa menyentuh. Pada orang tak dikenal ini dia melakukan terapinya dengan beragam cara, termasuk menyembuhkan beberapa titik penting dalam tubuh dengan menempelkan tangannya di situ.

Pusat pengobatan untuk rakyat miskin yang dibuatnya ini sebetulnya dulu dibuat khusus untuk perempuan dan anak- anak. Mulanya, Kiran tak menerima pasien lelaki dewasa. Kiran bersikeras tentang itu, sampai pada suatu hari pertahanannya runtuh saat seorang perempuan yang pernah diobatinya dengan bercucuran air mata memohon agar dia bersedia mengobati suaminya yang baru saja digigit ular berbisa.

Eps 3. Pancaran Darah Di Tengah Telaga

DAUN bambu bergerisik menyapa hari. Udara dingin masuk melalui dinding dan kisi-kisi jendela.

Kiran membuka matanya.

Diam tak bergerak di atas pembaringan, dia mencoba menghilangkan gambar- gambar yang berkelebatan di depan matanya. Ditutupnya mata. Tak hilang. Dibukanya mata, juga tak membantu. Gambar serupa apa yang tadi malam dilihatnya dalam mimpi terus menari- nari dalam angannya...

Gambar sebuah telaga yang sangat bening, damai dan sunyi yang sungguh bahkan dalam tidurpun dapat membuatnya merasa sangat nyaman. Telaga biru muda kehijauan yang sangat tenang. Yang sama sekali tak menunjukkan riak di permukaan tapi...

Memancarkan darah?

Eps 2. Sesajen untuk Dewata

TUJUH pasang mata menatap Dhanapati yang berjalan terhuyung hingga sosoknya lenyap ditelan hutan.

Dua dari mereka memalingkan wajah. Dua lainnya menarik nafas panjang sambil menunduk. Tiga lainnya bersikap tak peduli.

“Dhanapati telah memilih. Dan dia kini telah membayar harganya…” Yang berujar adalah lelaki berusia 50-an tahun. Berwajah agung dengan tatapan setajam mata elang. Dia mengenakan pakaian mewah dengan simbol burung Garuda mengepakkan sayap yang tersulam indah di dada sebelah kiri. Di Kotaraja, Trowulan, lelaki ini sangat disegani dan dikenal sebagai orang kepercayaan Yang Mulia Mahapatih. Dia bernama Bhagawan Buriswara, pemimpin Bhayangkara Biru, sekaligus salah satu dari lima tokoh paling sakti di Trowulan.

“Tak  perlu ada penyesalan. Kita melakukan hal yang benar. …”

“Memang tak perlu ada penyesalan. Lagipula penyesalan tak akan membuat warga dukuh Weru ini hidup lagi bukan?” Sahut lelaki bertubuh gemuk kekar. Berwajah bulat dengan mulut yang selalu menyeringai. Dia bernama Brontoseno.

Semua terdiam. Nyaris serentak, mereka menatap mayat yang bergelimpangan. Mayat penduduk biasa yang tak tahu apa-apa.

Ini bukan pertama kali mereka membunuh. Pekerjaan yang mereka lakoni telah membuat hati mereka sekeras baja. Mereka mampu membunuh penjahat tanpa berkedip. Bahkan tanpa diiringi tarikan nafas.

Tapi kali ini berbeda. Masyarakat Dukuh Weru yang mereka bunuh, 31 orang dewasa dan 17 anak-anak sama sekali tidak berdosa. Kesalahan masyarakat Dukuh Weru hanya satu. Mereka berada di dekat orang yang salah!!!

Eps 1: Lebih Hitam dari Kegelapan…

DHANAPATI tersuruk, melangkah limbung. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Sakit yang perih menusuk. Berdenyut berirama, irama kematian.

Dhanapati menggigit bibirnya. Sakit di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan sakit di hati. Dia menggigil.

Tak ada yang lebih menyakitkan dibanding dikhianati teman sendiri. Dikhianati oleh mereka yang selama ini dianggap sebagai saudara sejiwa. Senasib sepenanggungan.

darah

Blogger Template by Blogcrowds