Eps 13. Tamu Tak Diundang Datang Membelah Malam

PADA saat yang sama ketika Putri Harum Hutan serta ketiga Dara meninggalkan Trowulan dan melayang menembus kepekatan malam seperti peri hutan yang membelah angan, Kiran sedang menghirup air hangat dari cangkirnya di sebuah pondok di tengah hutan.


Pondok milik Putri Harum Hutan.


Malam sangat pekat. Kiran dan Dhanapati sedang bersantap malam. Sebentar lagi setelah makan malam, tiba waktunya bagi Kiran untuk mengobati Dhanapati.


Luka- luka Dhanapati bukan luka ringan. Karenanya pengobatan yang dilakukan Kiran padanya mengambil waktu terbanyak dalam keseharian mereka. Pagi, siang dan malam, kegiatan utama Kiran adalah melakukan pengobatan pada pasiennya itu.


Dari apa yang diceritakan Dhanapati, Kiran kini sedikit- sedikit sudah mengetahui mengapa Bhayangkara Biru mengejar Dhanapati. Dan apa yang diketahuinya itu melegakan hati. Paling sedikit dia tahu bahwa Dhanapati bukan penjahat. Dia dikejar karena dia mengundurkan diri dari keanggotaan Bhayangkara Biru untuk menikahi Sekar Wangi.


Perasaan Kiran campur aduk antara lega dan pedih mengetahui kenyataan ini.


Dia lega setelah mengetahui bahwa Dhanapati bukan penjahat. Tapi bahwa ada seorang istri dan bayi yang meregang nyawa tanpa dosa, tanpa tahu apa- apa sungguh mengganggu perasaannya.



Eps 12. Hujan Pedang Tanpa Suara

KEEMPAT gadis itu melayang menembus kepekatan malam, seperti peri hutan yang membelah angan. Nun jauh di sana, sang Purnama mengintip malu-malu dari balik mega.

Keempatnya berlari dalam formasi yang nyaris sama. Putri Harum Hutan berada di depan, dan tiga rekannya berjejer di belakang. Hanya sesekali mereka beriringan.

Dengan laghima sarira (ilmu meringankan tubuh) tingkat tinggi, tak sukar bagi mereka melintasi waktu. Kadang mereka berlari di pucuk pohon, terkadang menembus semak, atau menjejak permukaan rumput yang mulai basah.

Sepeminum teh sudah berlalu. Trowulan kini jauh di belakang, hanya berupa kerlip tidak nyata.

“Kenapa kita tidak mampir dulu ke rumah?” Gadis yang mengenakan busana serba hijau bertanya. Karena mereka selalu mengenakan warna pakaian yang identik dengan nama maka yang barusan berujar itu adalah Dara Hijau.

Eps 11. Bidadari Malam Menunggang Kegelapan

PEREMPUAN itu menengadah, merasakan aroma hangat yang memasuki indra penciuman.

Ah, aroma Kotaraja. Aroma Trowulan.

Dia selalu merasa takjub ketika menginjakkan kaki ke Trowulan. Sebuah kota yang menjadi lambang kemajuan. Sebuah kota di mana seseorang bisa mendapatkan apa saja. Ya apa saja.

Di sore seperti ini, pasar Trowulan riuh rendah. Dipenuhi manusia dari berbagai bangsa. Dengan berbagai tipe. Mulai dari pendekar, pendeta, resi, bangsawan, pedagang, petani, pengembara, penjilat, pemabuk, hingga budak. Mereka menjadi satu dalam pusaran kebutuhan. Kecuali, tentu saja, para budak yang hanya berdiri diam menanti dengan cemas siapa calon majikan.

Perempuan itu berjalan santai. Menikmati langkah demi langkah. Melihat dari kejauhan beberapa sosok yang dikenalnya, namun tidak melihatnya. Dilihatnya Pendekar Mata Naga dengan pedang berkaratnya. Sang pendekar sedang mengamati kayu cendana. Ada juga Pendekar Codet yang sama-sama berasal dari Swarnabhumi. Sampai sekarang, dia tidak mengerti kenapa pendekar yang berasal dari Ceumpa (Aceh) itu menyebut dirinya Codet padahal wajahnya sama sekali tidak menampakkan bekas luka.

Eps 10. Saat Perkenalan...

KIRAN membalikkan badan. Larut malam saat itu.

Dia berada di sebuah pondok kayu dimana semacam panggung berupa lantai yang ditinggikan berada di dalamnya. Lantai yang berjarak sekitar satu meter di atas tanah itu terbuat dari kayu jati, serupa dengan seluruh bagian lain pondok tersebut.

Disitulah, di panggung kayu jati itu Kiran berbaring di salah satu sisinya.

Di sisi lain terbaring seorang lelaki.

Mereka hanya berdua di dalam pondok itu. Sang pemilik pondok, Putri Harum Hutan tak berada di pondoknya. Dia sedang melawat ke Dharmasraya, ibukota kerajaan Melayu di Swarna Dwipa.

***



"Dhanapati"

Lelaki itu mengucapkan namanya untuk memperkenalkan diri ketika dia terjaga di pagi hari dan mendapati dirinya berada di sebuah pondok kayu bersama seorang gadis yang tak dikenalnya.


"Kirana."

Eps 9. Mata Seperti Berpasir

.............................................

“Terimakasih atas pertolongan tuan pendekar…”

“Tak apa tuan putri, itu sudah menjadi tugasku…”

“Ah, tuan pendekar tak perlu memanggilku tuan putri. Cukup Sekar saja…”

“Oh Baiklah tuan… eh maksudku Sekar. Dan jangan panggil aku tuan pendekar. Namaku Dhanapati…”

“Aku panggil kakang saja… Kakang lebih tua bukan?”

……………………………...............

“Sekar ingin belajar ilmu kanuragan. Kakang bisa membantu mengajarkan?”

“Boleh. Nanti jika sewaktu-waktu ditugaskan di sekitar sini, aku akan mampir…”

“Terimakasih kakang. Sekar senang sekali…”

……………………………………….....

“Sekar tak suka kalau kakang harus pergi secepat ini…”

“Aku juga, Sekar. Tapi kakangmu ini harus pergi. Ada tugas Negara yang menunggu…”

“Jangan lupa mampir lagi ya ‘kang?”

“Pasti. Itu pasti….”

……………………………………….....

“Sampai kapan kita seperti ini ‘kang?

Eps 8. Pondok Putri Harum Hutan

SUARA roda kereta dan derap kaki kuda membelah malam.

Kiran duduk di pojok kereta kuda yang ditumpanginya. Kereta mereka adalah salah satu dari beberapa buah kereta kuda yang beriringan berjalan dari Bukit Sangian menuju Trowulan.

Kereta- kereta itu memuat berbagai hasil bumi. Pemiliknya, Pendekar Padi Emas, adalah seorang saudagar yang setiap pekan menjual hasil bumi ke Trowulan.

Jalan yang ditempuh naik turun. Membuat kereta kuda yang mereka tumpangi berkali- kali terguncang.

Kiran menghapus matanya yang basah. Dia sangat kesal sehingga tak dapat menahan air matanya.

Mengapa aku membiarkan itu terjadi, pikir Kiran. Mengapa tak kudorong saja dia agar menjauh dan tak dapat menyentuhku ? 

Segera setelah tanya itu muncul, hatinya membantah: bagaimana mungkin aku mendorong dia? Dia masih dalam keadaan setengah sadar dan kekuatannya belum pulih, tak mungkin aku melakukan itu!

Kiran menggigit bibirnya. Sisa manis madu masih dapat terkecap di situ. Lidahnya menjilat bibir tersebut. Mencecap manisnya madu dan... mengenang...

Tidak. Kiran membantah pikirannya sendiri dalam hati. Tidak, aku tak menikmati kecupan tadi dan tak hendak mengenangnya.

Dan hatinya bertanya: benarkah itu? Benarkah kecupan tadi tak aku nikmati? Benarkah aku tak menginginkannya?

Kiran mengamati sebuah sudut lain di kereta kuda yang ditumpanginya. Sudut terjauh dari tempatnya duduk. Setelah peristiwa tak terduga itu, Kiran menggeser duduknya menjauh dari lelaki tak dikenal yang terbaring disana.

Lelaki itu tampan. Lekuk bibirnya indah, serta...

Hangat.

Kiran sungguh kesal.

***



Kereta berjalan menyusuri jalan yang mulai menurun.

Kiran mengamati sekitarnya. Bayangan pendopo kerajaan serta candi- candi di Kotaraja, Trowulan mulai dapat ditangkap oleh pandangnya.

Artinya sebentar lagi kereta mereka akan berbelok keluar dari rombongan.

Mereka memang tak akan turut serta ke Trowulan, tentu saja. Trowulan adalah kota dimana Bhayangkara Biru berpusat. Tak mungkin pergi ke sana sementara lelaki tampan yang selang beberapa hari terakhir ini berada dalam perawatan Kiran justru terluka karena berkelahi melawan para pendekar Bhayangkara Biru.

Dugaan Kiran tepat. Tak lama kemudian, kereta kudanya berbelok ke kiri memasuki jalan setapak, sementara rombongan kereta kuda lain berjalan terus.

Pendekar Padi Emas telah mengatur agar Kiran dan pasiennya yang tak diketahui namanya itu berada dalam kereta yang berjalan di ujung belakang rombongan. Selain itu, Pendekar Padi Emas juga telah mengucapkan mantera sehingga seluruh sais kereta tak menyadari turut sertanya Kiran dan lelaki tersebut dalam rombongan mereka. Tak pula sais yang mengemudikan kereta kuda yang ditumpangi Kiran.

Sais ini hanya memperoleh perintah khusus dari Pendekar Padi Emas untuk membelok keluar dari rombongan saat berada di sekitar hutan jati sebelum memasuki Kotaraja dan melanjutkan perjalanan masuk ke dalam hutan menuju pondok yang dimiliki oleh saudara sepupu pendekar Padi Emas, yakni Putri Harum Hutan.

wooden-house



Eps 7. Lelehan Madu Dalam Gulita Malam

BINTANG dan kunang-kunang menari.

Malam gelap gulita. Beberapa buah kereta kuda berisi berbagai hasil bumi berjalan beriringan.

Kiran duduk dengan posisi agak merunduk. Sesedikit mungkin orang yang melihat mereka, semakin baik.

Di hadapannya, terbaring seorang lelaki yang selang beberapa hari terakhir ini berada dalam perawatannya.  Laki-laki itu belum sepenuhnya sadar memang, tapi kondisinya stabil.

moon-and-star



Angin malam terus menyapu muka, membuat Kiran merasa bibirnya kering. Diambilnya sebuah wadah berisi madu dan dioleskannya madu  tersebut ke bibirnya. Diambilnya sedikit madu lagi yang lalu dioleskan ke bibir lelaki dihadapannya. Sekedar menjaga agar bibir itu tak kering dan pecah- pecah. 

***

Eps 6. Pisau Berkarat Menembus Kulit

SANG Surya mengintip malu-malu. Embun di dedaunan menetes perlahan. Burung mulai berkicau, seolah menyanyikan tembang tentang keabadian. Di kejauhan, kabut yang seperti untaian sutra perlahan mengembang bagai payung milik Dewata.

Pagi itu indah. Namun keindahan itu tidak dinikmati Pendekar Padi Emas. Lelaki itu duduk  di tengah halaman rumahnya. Duduk di sebuah kursi kasar yang terbuat dari batang kelapa. Di dekatnya ada meja sederhana. Setumpuk butiran emas berbentuk padi berserakan di atas meja.

Pendekar Padi Emas tak memperdulikan keindahan pagi itu, karena perhatiannya dicurahkan ke atas meja. Dia sedang asyik membentuk butiran emas menjadi pedang. Yang kemudian dibongkar dan dibentuk menjadi perahu. Dan daun. Dan bintang.

Tiba-tiba terdengar ringkik kuda. Belasan orang dengan gesit melompat dari kuda dan memasuki halaman.

Ah, akhirnya mereka datang juga.

Pendekar Padi Emas melirik sekilas. Ada 17 lelaki yang datang. Semuanya bertubuh tegap, gesit dan terlihat sangat percaya diri.

Buyut (kepala dukuh) termasuk di antaranya. Juga Akuwu (pemimpin beberapa dukuh) yang bernama Karta. Bertahun-tahun menetap di Jawadwipa membuat Pendekar Padi Emas yang berasal dari Swarnabhumi ini sudah mengetahui bagaimana struktur pemerintahan di Kerajaan Majapahit. Dia tahu, di atas Akuwu ada Wedana. Di atas Wedana ada Juru. Dan…

“Salam damai untuk Pendekar Padi Emas yang perkasa…” Akuwu Karta membungkuk hormat.

“Hmmm. Ada yang bisa saya bantu?” Pendekar Padi Emas berkata dingin. Matanya tetap diarahkan ke permukaan meja. Jemarinya membentuk butiran padi emas menjadi ikan.

“Eh… Em… Maaf kalau kami mengganggu. Kami sedang mencari dua orang buronan kerajaan. Seorang lelaki dan perempuan. Dan.. Eh.. Informasi terakhir menyebut kalau mereka berada di sini…” Akuwu Karta berkata setengah gagap.

Pendekar Padi Emas mengangkat wajahnya. Wajah yang tampan namun sangat dingin. Tatapannya seperti pisau berkarat yang menembus kulit.

“Mereka tidak berada di sini. Aku tidak menerima tamu seorang laki-laki dan perempuan…”

“Tapi… Em… Ada orang yang melihat mereka datang menjelang malam. Dan hingga saat ini kami tak melihat mereka meninggalkan rumah ini. Kuda mereka juga masih berada di kandang….”

“Jadi kau menganggap aku berdusta?”

Eps 5. Sang Surya Menanyakan Hujan

"Se..kar... Sekar Wangiii...."

Bisikan itu seperti datang dari alam maut. Lirih, nyaris tak terdengar. Kiran yang sedang meramu obat-obatan tertegun. Kaget. Dengan cepat dia menoleh ke arah lelaki itu. Pemuda itu masih terbaring. Matanya terpejam. Wajahnya merah padam.

Kiran mendekat. Pemuda itu bergerak gelisah.

"Sekar... Jangan... tinggal..kan akuuuu..."

Perasaan Kiran campur aduk. Pemuda itu mengigau, dan itu pertanda baik. Artinya dia telah melampaui masa kritis. Namun kata-kata yang terucap dari mulut pemuda itu membuat hati Kiran, entah kenapa, terasa seperti ditusuk. Siapa Sekar Wangi?

Kiran menyentuh dahi si pemuda, dan seperti dugaannya, dahi itu terasa panas. Juga tangannya. Dan tubuhnya. Gadis itu mengambil beberapa helai daun Jarak dan menempelkannya ke dahi dan ketiak.

Tiba-tiba terdengar suara mendehem. Seorang laki-laki setengah baya memasuki ruangan pengobatan. Dia berusia sekitar 60-an tahun, bertubuh sedang. Raut wajah lelaki itu bersih namun terlihat sangat serius.

Eps 4. Beribu Tanya di Bulan Purnama

BULAN penuh menerangi langit.

Suara kidung dan tawa riang kanak- kanak menghangatkan malam bulan purnama itu.

Kiran tersenyum. Dapat dibayangkannya bahwa di sebuah lapangan yang berada di tengah dukuh Wening anak- anak desa tersebut bermain bersama dengan gembira. Bulan purnama selalu membawa kesenangan pada mereka, sebab pada hari- hari semacam itu para orang tua mengijinkan anak- anak untuk bermain di luar di bawah siraman cahaya bulan.

purnama

Kiran sendiri masih duduk di samping seorang lelaki tak dikenal yang terbaring di hadapannya. Sejak sore tadi dia hampir tak beranjak dari sisi laki- laki tampan tak bernama tersebut.

Diluar kebiasaannya, Kiran tak hanya melakukan terapi dengan gelombang energi tanpa menyentuh. Pada orang tak dikenal ini dia melakukan terapinya dengan beragam cara, termasuk menyembuhkan beberapa titik penting dalam tubuh dengan menempelkan tangannya di situ.

Pusat pengobatan untuk rakyat miskin yang dibuatnya ini sebetulnya dulu dibuat khusus untuk perempuan dan anak- anak. Mulanya, Kiran tak menerima pasien lelaki dewasa. Kiran bersikeras tentang itu, sampai pada suatu hari pertahanannya runtuh saat seorang perempuan yang pernah diobatinya dengan bercucuran air mata memohon agar dia bersedia mengobati suaminya yang baru saja digigit ular berbisa.

Eps 3. Pancaran Darah Di Tengah Telaga

DAUN bambu bergerisik menyapa hari. Udara dingin masuk melalui dinding dan kisi-kisi jendela.

Kiran membuka matanya.

Diam tak bergerak di atas pembaringan, dia mencoba menghilangkan gambar- gambar yang berkelebatan di depan matanya. Ditutupnya mata. Tak hilang. Dibukanya mata, juga tak membantu. Gambar serupa apa yang tadi malam dilihatnya dalam mimpi terus menari- nari dalam angannya...

Gambar sebuah telaga yang sangat bening, damai dan sunyi yang sungguh bahkan dalam tidurpun dapat membuatnya merasa sangat nyaman. Telaga biru muda kehijauan yang sangat tenang. Yang sama sekali tak menunjukkan riak di permukaan tapi...

Memancarkan darah?

Eps 2. Sesajen untuk Dewata

TUJUH pasang mata menatap Dhanapati yang berjalan terhuyung hingga sosoknya lenyap ditelan hutan.

Dua dari mereka memalingkan wajah. Dua lainnya menarik nafas panjang sambil menunduk. Tiga lainnya bersikap tak peduli.

“Dhanapati telah memilih. Dan dia kini telah membayar harganya…” Yang berujar adalah lelaki berusia 50-an tahun. Berwajah agung dengan tatapan setajam mata elang. Dia mengenakan pakaian mewah dengan simbol burung Garuda mengepakkan sayap yang tersulam indah di dada sebelah kiri. Di Kotaraja, Trowulan, lelaki ini sangat disegani dan dikenal sebagai orang kepercayaan Yang Mulia Mahapatih. Dia bernama Bhagawan Buriswara, pemimpin Bhayangkara Biru, sekaligus salah satu dari lima tokoh paling sakti di Trowulan.

“Tak  perlu ada penyesalan. Kita melakukan hal yang benar. …”

“Memang tak perlu ada penyesalan. Lagipula penyesalan tak akan membuat warga dukuh Weru ini hidup lagi bukan?” Sahut lelaki bertubuh gemuk kekar. Berwajah bulat dengan mulut yang selalu menyeringai. Dia bernama Brontoseno.

Semua terdiam. Nyaris serentak, mereka menatap mayat yang bergelimpangan. Mayat penduduk biasa yang tak tahu apa-apa.

Ini bukan pertama kali mereka membunuh. Pekerjaan yang mereka lakoni telah membuat hati mereka sekeras baja. Mereka mampu membunuh penjahat tanpa berkedip. Bahkan tanpa diiringi tarikan nafas.

Tapi kali ini berbeda. Masyarakat Dukuh Weru yang mereka bunuh, 31 orang dewasa dan 17 anak-anak sama sekali tidak berdosa. Kesalahan masyarakat Dukuh Weru hanya satu. Mereka berada di dekat orang yang salah!!!

Eps 1: Lebih Hitam dari Kegelapan…

DHANAPATI tersuruk, melangkah limbung. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Sakit yang perih menusuk. Berdenyut berirama, irama kematian.

Dhanapati menggigit bibirnya. Sakit di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan sakit di hati. Dia menggigil.

Tak ada yang lebih menyakitkan dibanding dikhianati teman sendiri. Dikhianati oleh mereka yang selama ini dianggap sebagai saudara sejiwa. Senasib sepenanggungan.

darah