Eps 6. Pisau Berkarat Menembus Kulit

SANG Surya mengintip malu-malu. Embun di dedaunan menetes perlahan. Burung mulai berkicau, seolah menyanyikan tembang tentang keabadian. Di kejauhan, kabut yang seperti untaian sutra perlahan mengembang bagai payung milik Dewata.

Pagi itu indah. Namun keindahan itu tidak dinikmati Pendekar Padi Emas. Lelaki itu duduk  di tengah halaman rumahnya. Duduk di sebuah kursi kasar yang terbuat dari batang kelapa. Di dekatnya ada meja sederhana. Setumpuk butiran emas berbentuk padi berserakan di atas meja.

Pendekar Padi Emas tak memperdulikan keindahan pagi itu, karena perhatiannya dicurahkan ke atas meja. Dia sedang asyik membentuk butiran emas menjadi pedang. Yang kemudian dibongkar dan dibentuk menjadi perahu. Dan daun. Dan bintang.

Tiba-tiba terdengar ringkik kuda. Belasan orang dengan gesit melompat dari kuda dan memasuki halaman.

Ah, akhirnya mereka datang juga.

Pendekar Padi Emas melirik sekilas. Ada 17 lelaki yang datang. Semuanya bertubuh tegap, gesit dan terlihat sangat percaya diri.

Buyut (kepala dukuh) termasuk di antaranya. Juga Akuwu (pemimpin beberapa dukuh) yang bernama Karta. Bertahun-tahun menetap di Jawadwipa membuat Pendekar Padi Emas yang berasal dari Swarnabhumi ini sudah mengetahui bagaimana struktur pemerintahan di Kerajaan Majapahit. Dia tahu, di atas Akuwu ada Wedana. Di atas Wedana ada Juru. Dan…

“Salam damai untuk Pendekar Padi Emas yang perkasa…” Akuwu Karta membungkuk hormat.

“Hmmm. Ada yang bisa saya bantu?” Pendekar Padi Emas berkata dingin. Matanya tetap diarahkan ke permukaan meja. Jemarinya membentuk butiran padi emas menjadi ikan.

“Eh… Em… Maaf kalau kami mengganggu. Kami sedang mencari dua orang buronan kerajaan. Seorang lelaki dan perempuan. Dan.. Eh.. Informasi terakhir menyebut kalau mereka berada di sini…” Akuwu Karta berkata setengah gagap.

Pendekar Padi Emas mengangkat wajahnya. Wajah yang tampan namun sangat dingin. Tatapannya seperti pisau berkarat yang menembus kulit.

“Mereka tidak berada di sini. Aku tidak menerima tamu seorang laki-laki dan perempuan…”

“Tapi… Em… Ada orang yang melihat mereka datang menjelang malam. Dan hingga saat ini kami tak melihat mereka meninggalkan rumah ini. Kuda mereka juga masih berada di kandang….”

“Jadi kau menganggap aku berdusta?”

“Eh… Bukan begitu… Pendekar jangan salah sangka. Kami hanya ingin memeriksa. Jika Pendekar tidak keberatan…”

“Aku keberatan….”

Akuwu Karta menoleh ke rekan-rekannya. Dan dengan enggan dia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah medali perak berbentuk daun bercabang lima.

“Atas nama kerajaan, Saya, Akuwu Karta menyatakan akan menggeledah tempat ini. Setiap usaha yang bermaksud menggagalkan upaya penggeledahan akan dianggap sebagai pembangkangan terhadap kerajaan…”

Mata Pendekar Padi Emas menyipit, menatap medali perak yang dipegang Akuwu Karta. Dia kemudian mengangkat bahunya.

“Baik. Kalian silakan menggeledah. Tapi jika tak menemukan yang dicari, kalian harus meninggalkan jari kelingking sebagai cindera mata…”


Akuwu Karta tersenyum. “Ah Pendekar Padi Emas ternyata suka bergurau…”



***



Sang Surya seperti bergerak cepat. Sesekali cahayanya ditutupi mega berwarna putih. Pendekar Padi Emas masih asyik dengan ‘mainannya’. Di belakangnya berdiri enam lelaki yang selama ini menjadi pengurus rumah.

Sang Surya sudah berada di ubun-ubun ketika ketujuh belas lelaki yang dipimpin Akuwu Karta keluar dari rumah. Wajah mereka kusut. Kelelahan terpancar jelas. Mereka telah mencari dengan seksama. Memeriksa setiap jengkal. Setiap sudut. Namun yang dicari tak jua ditemukan. Bukan hanya sosoknya. Juga tanda-tandanya.

“Kami minta maaf. Yang kami cari tak berada di tempat ini…” Akuwu Karta berujar setengah membungkuk.

Pendekar Padi Emas melangkah perlahan dan berdiri tepat di pagar.

“Karena tak menemukan yang dicari, kalian harus meninggalkan jari kelingking. Jari kelingking tangan kanan…”

Akuwu Karta dan rekan-rekannya saling pandang. Ungkapan Pendekar Padi Emas sungguh membuat mereka heran.

“Mohon Pendekar yang mulia tidak bergurau….”

“Apakah aku kelihatan seperti bergurau? Kalian menuduh aku berdusta. Kalian kemudian menggeledah kediamanku. Dan kini kalian menganggap aku bergurau?” Perlahan Pendekar Padi Emas mengeluarkan sebilah pisau yang panjangnya dua jengkal. Pisau itu berkilat terkena sinar matahari. Dia melemparkan pisau itu ke permukaan tanah dan menancap hingga setengahnya.

“Kalian bisa memilih. Kalian memotong kelingking kalian atau aku yang melakukan…”

Akuwu Karta dan rekan-rekannya terdiam. Ternyata tuan rumah tidak bergurau. Namun memotong jari kelingking?

“Pendekar, kami tentu tak sudi memotong jari kami sendiri. Biarlah kami, Lima Penghuni Sangian  meminta pengajaran dari pendekar yang mulia!!!” Lima lelaki segera memasang kuda-kuda. Dan dengan gesit mereka menerjang.

Lima Penghuni Sangian menyerang dari lima penjuru sekaligus menutupi ruang gerak lawan. Setelah hampir setengah hari mencari tanpa hasil, mereka merasa kesal bukan main. Dan kekesalan ditumpahkan pada tuan rumah yang ingin meminta cindera mata.

Pendekar Padi Emas mendengus. Dengan cepat dia menendang pisau yang tertancap di permukaan tanah, menangkap pisau itu dan bergerak.

“Sraaakkk… Sraaakkk… Sraaak… Sraaakkkk… Sraaakkk…”

Pendekar Padi Emas berkelebat. Dan akibatnya sungguh hebat. Lima lelaki yang menerjangnya berteriak kesakitan. Jari kelingking mereka putus!!

Akuwu Karta dan rekan-rekannya yang lain terkejut bukan main. Apa yang diperlihatkan Pendekar Padi Emas sungguh luar biasa. Jari kelingking merupakan salah satu organ tubuh terkecil yang sebenarnya sangat sukar diserang. Namun Pendekar Padi Emas mampu melakukan lima serangan tak sampai sekedipan mata!!!

Pendekar Padi Emas masih berdiri di tempatnya. Seperti tak terjadi apa-apa. Hanya pisau di tangannya yang kini meneteskan darah. Perlahan dia mendekatkan pisau itu ke mulutnya, dan meniup darah yang menetes.

pisau-berdarah

Akuwu Karta dan 11 rekannya yang jemarinya masih utuh memasang kuda-kuda. Pendekar Padi Emas boleh jadi sangat hebat. Namun mereka berjumlah 12 orang. Masing-masing dengan ilmu kanuragan yang tidak rendah.

“Serang!!!”

Begitu perintah dikeluarkan, 11 lelaki melompat dan menerjang. 11 orang, karena yang satunya lagi, Akuwu Karta, memilih untuk bertindak cerdik. Bukannya menerjang ke arah lawan dia justru melompat ke kanan dan… kabur.

Pendekar Padi Emas kembali bergerak. Kecepatannya sungguh sukar diikuti mata. Dan dalam dua kedipan mata sebelas lelaki yang menerjang sudah meringis kesakitan!!

“Huh, mau kabur?”

Akuwu Karta sudah melesat. Pendekar Padi Emas menggerakkan tangannya. Sinar emas meluncur. Akuwu Karta yang berlari tiba-tiba mematung. Seperti arca. Hanya biji matanya yang bergerak-gerak ketakutan.

Pendekar Padi Emas melangkah perlahan. Mendekati Karta yang seperti arca.

“Kau pikir bisa kabur seenaknya dari Pendekar Padi Emas?” Dengan gerakan kilat dia bergerak. Jari kelingking Karta putus.

“Kalian pergilah. Dan jangan datang lagi. Jika kalian menggangguku lagi, bukan hanya kelingking  kalian yang akan putus…”

Sambil meringis kesakitan ketujuhbelas lelaki itu meninggalkan rumah. Menaiki kuda dan menghilang dalam hutan.

Tinggal Pendekar Padi Emas yang berdiri diam. Seperti arca. Dan dia tiba-tiba menatap ke kejauhan.

“Aku, Pendekar Padi Emas hanyalah saudagar biasa. Aku tidak ingin mencari musuh. Namun jika ada yang menjual murah, akan aku beli. Dan aku bayar lunas!!!”

Dia berdiri. Menunggu. Dan menunggu. Dan akhirnya tersenyum.


***



“Uhh, dia hebat!!”

“Hmmmh”

“Dan dia menantang kita, Brontoseno. Dia bilang siap membeli. Bagaimana jika kita jual?”

Brontoseno menggelengkan kepala. Dia bersama Kebo Wungu sejak tadi mengamati. Mereka sengaja memilih pohon Beringin sebagai tempat untuk mengintai. Tempat yang mereka pikir aman dan tak akan diketahui.

Namun mereka keliru. Pendekar Padi Emas ternyata tahu mereka di sini. Dan dia bahkan sempat menantang!!

“Selama persoalan Dhanapati belum diselesaikan, bukan hal yang bijaksana jika kita mencari musuh baru. Apalagi seorang seperti Pendekar Padi Emas, yang butiran padi emasnya merupakan salah satu dari tujuh senjata rahasia paling mematikan di Nusantara.”

Kebo Wungu mengangguk. Pendekar Padi Emas telah memamerkan kemampuan kanuragan kelas satu. Bahkan, mengingat reputasi si pendekar, Akuwu Karta yang terkena senjata rahasia masih termasuk beruntung karena butir padi emas yang dilepaskan hanya membuatnya tertotok.  Di dunia persilatan Pendekar Padi Emas terkenal memiliki tangan besi, terutama jika menghadapi para perampok dan pemerkosa. Dia terkenal dengan semboyannya: ‘Satu emas satu nyawa’. Setiap butir emas yang dilepaskan pasti akan menghabisi satu nyawa!!

“Bhagawan juga akan murka jika kita mencari perkara dengan Pendekar Padi Emas,” sambung Brontoseno. “Ingat, dia masih terhitung kerabat kerajaan…”

Kebo Wungu kembali mengangguk. Dia tentu tahu kalau Pendekar Padi Emas masih terhitung kerabat kerajaan. Kakek Pendekar Padi Emas konon merupakan sepupu dari Puti Dara Petak atau Dyah Indrasweri, puteri Melayu yang kemudian menjadi permaisuri Raden Wijaya, Raja Majapahit yang pertama. Puti Dara Petak masih terhitung nenek tiri dari Sri Rajasanegara Hayam Wuruk, raja Majapahit saat ini

“Tentang Dhanapati, kemana kita harus mencarinya? Kita mengetahui kalau Dhanapati dan gadis tabib itu mendatangi kediaman Pendekar Padi Emas. Mereka tidak terlihat meninggalkan tempat itu. Namun Akuwu Karta tak menemukan mereka…”

“Bagaimana dengan jalan rahasia?”

“Tidak. Jika ada pasti sudah ditemukan…”

“Hmmm Sungguh aneh. Tak ada yang meninggalkan kediaman Pendekar Padi Emas, kecuali beberapa kereta yang mengangkut hasil bumi tadi malam. Dan….”

Brontoseno dan Kebo Wungu saling pandang.

“Ah bodohnya kita. Kereta itu. Tentu saja….”

“Sial. Dan kita sudah tertinggal jauh. Ayo…”

Dua anggota Bhayangkara Biru ini melesat, seperti kilat yang membelah hutan.


***



Dari kediamannya, Pendekar Padi Emas melihat bagaimana kedua lelaki itu berkelebat. Dia menarik nafas lega. Perlahan dia melepaskan butiran padi emas yang sejak tadi digenggamnya.

“Dhanapati, Kiran, semoga Yang Kuasa menyertai kalian….” (bersambung)


Catatan:


Nama Pendekar Padi Emas terinspirasi oleh nama blog padiemas. Namun karakter, sifat dan watak Pendekar Padi Emas dalam kisah ini murni fiksi dan rekaan semata, dan sama sekali tidak merujuk ke figur tertentu, baik yang masih hidup maupun sudah mati, baik yang ada di dunia nyata maupun dunia maya. Persamaan karakter, sifat dan watak Pendekar Padi Emas dengan figur di dunia nyata atau dunia maya hanya kebetulan semata…. ;)

** ** gambar diambil dari http://bloody2.com/drops.aspx**

9 Comments:

  1. rice2gold said...
    baiklah kisanak, lanjutkan ceritamu :)
    hamba menanti kelanjutannya.....tapi gak pake eh, itu buat hamba tertawa...he..he...he...
    sandalilang said...
    keren.. makin seru aja..
    Mechta said...
    makin seru...tapi serem juga baca bag yg berdarah-darah itu...(dilema membaca cersil)
    padepokanrumahkayu said...
    hahaha.... terimakasih juga kisanak ;)
    padepokanrumahkayu said...
    nanti kapan2 kita masukkan adegan romantis spy seremnya hilang ya? hehe.. makasi ya ;) ~k
    padepokanrumahkayu said...
    makasi sand :) ~k
    wi3nd said...
    aduuchh..liat pisaunya sereem bangeeed duhai tuanku..** aku ndak bisa liat darah..takuutt...


    critanya mantaab..!
    masih bersambung yaaa..
    **nungguin sambungannya..

    pengen ketawa baca yang terakhir..
    jika ada kesamaan pada nama tokoh bla balaa.. :D

    kereen igh..!
    padepokanrumahkayu said...
    oh iya, masih bersambung dan lanjutannya masih puuanjaaaaang banget :)

    rencananya kita memang mau masukkan sebanyak mungkin 'nama' para blogger untuk menjadi 'cameo', terutama yg punya nama blog atau ID yang unik dan eksotis, hehehe... ;)

    tapi tentu saja karakternya disesuaikan dengan jalan cerita... ~k
    qyuqyu said...
    "Tatapannya seperti pisau berkarat yang menembus kulit" kira2 klo memang ada yg menatap seperti ini, bisa2 ga bisa mikir...

Post a Comment