Eps 1: Lebih Hitam dari Kegelapan

DHANAPATI tersuruk, melangkah limbung. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Sakit yang perih menusuk. Berdenyut berirama, irama kematian.

Dhanapati menggigit bibirnya. Sakit di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan sakit di hati. Dia menggigil.


Tak ada yang lebih menyakitkan dibanding dikhianati teman sendiri. Dikhianati oleh mereka yang selama ini dianggap sebagai saudara sejiwa. Senasib sepenanggungan.

Awalnya dia merasa heran melihat mantan rekannya dari Bhayangkara Biru mendatangi Dukuh Weru, tempatnya menetap selang satu setengah tahun terakhir. Mereka datang lengkap. Bahkan Bhagawan Buriswara, pemimpin Bhayangkara Biru yang biasanya jarang meninggalkan keraton juga ikut serta.

Semula Dhanapati mengira rekan-rekannya datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahannya, dan ikut gembira dengan kelahiran bayi laki-lakinya.

Namun perkiraan Dhanapati keliru. Sangat keliru.


Mereka, saudara-saudaranya ternyata datang membawa maut. Mereka datang untuk menghukum!!

Tak ada yang bisa meninggalkan Bhayangkara Biru. Menjadi anggota Bhayangkara Biru adalah kontrak sekali seumur hidup yang harus dijalani sampai mati. Dhanapati tahu hal itu ketika dia terpilih menjadi anggota, lima tahun lalu.

Hingga hari ini, Dhanapati tak pernah menyesali keputusannya menjadi anggota Bhayangkara Biru, sebuah kelompok elit yang dibentuk Yang Mulia Mahapatih. Bhayangkara Biru bertugas mengejar dan mengeksekusi para penjahat yang lolos dari belitan hukum. Para anggota Bhayangkara Biru diberi hak untuk membunuh. Mereka bergerak rahasia namun diberi akses khusus dan tak terbatas dari Kerajaan.

Bhayangkara Biru sangat dihormati sekaligus ditakuti. Di Kotaraja, pamor mereka bahkan lebih tinggi dibanding Bhayangkara Utama yang bertugas sebagai pengawal pribadi Yang Mulia Baginda Raja.

Dhanapati tak pernah menyesal. Hingga dia melihat seluruh warga Dukuh Weru dibantai tanpa ampun. Sampai dia melihat istrinya roboh berkalang tanah dan putranya yang baru berusia tiga bulan berlumuran darah…

Ahhh….

Dhanapati kembali menggigil. Pemandangan itu kembali menari-nari di benaknya. Pemandangan sang istri dan putranya yang berselimut darah segar….

Dhanapati melawan, tentu saja. Seperti harimau terluka dia mengamuk. Pedang Api-nya benar-benar mengeluarkan api.

Namun yang dihadapi bukan jagoan biasa. Tujuh lawan yang dihadapi adalah jagoan pilihan Kerajaan Majapahit. Enam di antaranya memiliki kemampuan kanuragan yang setara dengannya. Yang satunya lagi, bahkan memiliki ilmu kanuragan berlipat di atasnya.

Pertempuran berakhir sangat singkat. Berawal ketika dia merasa perih di punggung. Cakar Mayat Beku milik Bayu Segara menghantam. Disusul sodokan Ajian Serat Jiwa dari Brontoseno. Dan tebasan golok milik Ayu Ningrum. Dan hantaman Ajian Waringin Sungsang dari Lembu Kapang…

Dia mengenal ilmu-ilmu itu sama seperti mengenali ilmunya sendiri. Dhanapati berkali-kali melihat ketika mereka latihan. Dia juga beberapa kali melihat langsung bagaimana ilmu-ilmu itu menghajar musuh. Yang dikuasai rekan-rekannya adalah ilmu tingkat tinggi yang telah menggemparkan Jawadwipa selama ratusan tahun.

Namun Dhanapati tak pernah menyangka kalau dia benar-benar akan merasakan kehebatan pukulan itu. Bukan latihan seperti biasa, namun hantaman yang mengincar nyawa!!

“Kami tak akan membunuhmu,” ujar Bhagawan Buriswara ketika Dhanapati terbaring tak berdaya. “Bhayangkara Biru tak pernah membunuh sesama anggota. Biarlah alam yang membunuhmu. Biarlah cacing tanah berpesta pora menikmati tubuh busukmu. Biarlah burung gagak mencabik dagingmu….”

Dan Dhanapati dibiarkan hidup.

***

Dhanapati tersuruk, melangkah limbung. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Sakit yang perih menusuk. Berdenyut berirama, irama kematian.

Tidak. Aku harus hidup, pikirnya sambil menggigit bibir, yang seketika terasa asin. Bayangan istri dan anaknya yang bergelimang darah kembali terbayang. Dhanapati menggigil.

Dia terus berjalan. Pedang Api yang lengket di genggaman hanya bisa menyusur tanah, seperti menghitung berapa langkah yang telah dijalani. Ada keinginan yang kuat untuk melepaskan pedangnya. Namun Dhanapati mengusir keinginan itu jauh-jauh. Pedang Api telah menyertai dirinya sejak dia memutuskan menjadi penegak kebenaran. Kalau harus mati, biarlah dia mati dengan pedang di dalam genggaman.

Dhanapati melihat pepohonan seperti berlari. Semak belukar bergerak lembut seperti penari keraton.

Dhanapati menengadah. Sang Surya entah kenapa kini menjadi dua. Dan berubah menjadi empat. Sang Surya juga menari, dan secara aneh berubah menjadi pelangi. Yang meledak menjadi kumparan beraneka warna.

Dan semuanya tiba-tiba menjadi hitam. Yang lebih hitam dari kegelapan….


(lanjutan kisah ini dapat dibaca pada padepokanrumahkayu )

2 Comments:

  1. Hes said...
    Ahay ahay, selamat dengan padepokan barunya. Kapan syukuran? ;) *nunggu episode 26 nih*
    Who? Me? said...
    wah sudah keduluan ama mbak Hes... :) nitip jejak dulu ah..

Post a Comment