Eps 40. Maut Mengintip di Lapangan Bubat

PENDEKAR Padi Emas melangkah menyusuri  jalan berbatu di Trowulan. Seperti biasa, ibukota Kerajaan Majapahit ini ramai oleh lalulalang penduduknya.  Sebagai kota terbesar di Jawadwipa, tak mengherankan jika Trowulan menjadi daya tarik utama, bukan hanya masyarakat biasa, namun juga berbagai tipe pedagang yang datang dari berbagai daerah.

Kios gerabah yang dituju letaknya tidak jauh, dan Pendekar Padi Emas merasa tidak perlu terburu-buru. Dia mencoba menikmati setiap denyut yang terasa di kota ini. Dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba merasakan aroma sebuah kota. Selalu menyenangkan bisa berada di kota, pikirnya.

Dia terus melangkah, menikmati dan meresapi pemandangan. Hingga dia merasa ada sesuatu yang salah.

Dia memperlambat langkahnya, mengamati. Sepintas, semuanya terlihat normal. Tapi ada sesuatu yang mengusik perasaannya. Namun apa?

Pendekar Padi Emas menghentikan langkahnya, mendekati penjual sate ayam yang menjajakan dagangannya di tepi jalan. Dia menatap sekeliling. Mengamati dengan lebih seksama. Mencoba mencari sesuatu yang tidak biasa.

Dan samar, dia bisa merasakan ketegangan. Ketegangan yang terpancar dari sebagian besar masyarakat, baik yang lalu-lalang maupun yang berdiri di tepi jalan. Tapi ketegangan karena apa?

Dia kembali mengamati, dan akhirnya tanpa sadar menepuk dahinya. Kini dia tahu kenapa sejak awal dia merasa ada yang tidak beres. Karena sebagian besar masyarakat yang lalu lalang adalah prajurit. Prajurit yang siap berperang!!

Sebagai pendekar kelas atas, Padi Emas telah bertemu banyak tipe manusia. Dia juga dapat merasakan aura membunuh yang terpancar. Dan aura inilah yang dirasakannya tadi. Aura membunuh yang berasal dari prajurit yang menyamar.

Tapi kenapa ada prajurit yang menyamar, di Trowulan pula? Apakah sebentar lagi Yang Mulia Baginda akan melalui jalan ini, dan para prajurit itu bertugas untuk mengamankan? Namun jika hanya untuk pengamanan, kenapa aura membunuhnya sangat besar?
Pendekar Padi Emas kembali menatap sekeliling. Bahkan tukang sate yang berada di dekatnya adalah samaran!!

Pedagang sate di dekatnya menjajakan sate yang sudah jadi. Tidak terlihat daging mentah dan tusuk sate. Juga tak ada perapian. Sambal kecap yang merupakan pasangan dari sate ayam juga tak tersedia. Si pedagang juga terlihat tak mempedulikan dagangannya. Tak sekalipun dia menyapa orang yang lalulalang agar mampir dan membeli. Perhatian si pedagang tertuju ke sebuah lokasi yang letaknya di sebelah kanan.

Pendekar Padi Emas mengikuti arah pandangan si pedagang sate. Si tukang sate sedang mengamati Lapangan Bubat, lapangan terbesar di Trowulan.

Ada apa, atau mungkin tepatnya, apa yang akan terjadi di Lapangan Bubat?

Pendekar Padi Emas berjalan melewati si tukang sate palsu dan mendekati kios tuak yang cukup ramai. Pemilik kios adalah seorang kakek renta kurus kering. Seorang perempuan bertubuh montok nampak melayani pembeli. Perempuan ini cantik, dan rupanya hal itu yang menjadi daya tarik utama para pelanggan. Dia hanya mengenakan kain yang menutupi pinggang. Sekilas Padi Emas melirik dua bukit kembar yang membusung penuh milik perempuan itu. Bukit kembar itu bergerak perlahan setiap kali perempuan itu berjalan.

“Tuak denmas?” kakek itu menyapa sopan. Senyumnya tulus. Gigi kakek yang tinggal beberapa itu hitam.

Padi Emas mengangguk. Perempuan montok itu mendekati Padi Emas, dan dengan senyum agak genit menuangkan tuak ke sebuah gelas yang terbuat dari bambu berukir.

“Silakan denmas, jika ingin tambah silakan memanggil saya,” kata si perempuan sambil melontarkan lirikan menggoda.

Padi Emas kembali menganggukkan kepala. Ini bukan pertama kali dia dilirik oleh perempuan. Bukan sekedar lirikan, namun yang sifatnya mengajak. Padi Emas bukanlah pendekar yang anti perempuan. Tidak. Terkadang dia juga menikmati kehangatan tubuh perempuan.

Lirikan perempuan ini, ditambah tubuhnya yang sintal sempat mengusik kelelakiannya. Namun Padi Emas menyingkirkan jauh-jauh perasaan itu. Dia ke Trowulan bukan untuk bersenang-senang. Ada hal lebih penting yang harus dikerjakan. Soal perempuan, itu bisa menunggu. Lagipula perempuan penjaja tuak ini pasti tak akan pergi jauh-jauh.

“Rupanya akan ada keramaian sebentar lagi?” Padi Emas bertanya basa-basi.

Kakek itu balik menatap Padi Emas. “Denmas pasti orang baru di Trowulan ya?” melihat Padi Emas mengangguk si kakek melanjutkan,” Denmas benar. Sebentar lagi akan ada keramaian. Rombongan Kerajaan Sunda Galuh sebentar lagi akan tiba. Rombongan Kerajaan Sunda Galuh mengantar putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang akan diperistri Yang Mulia Baginda Raja...”

“Ah, jadi pinangan Yang Mulia Baginda Raja diterima?”

“Iya. Pihak Kerajaan Sunda Galuh menyambut baik pinangan itu,” sahut si kakek. “Tentu saja, pinangan ini sukar ditolak. Gadis mana yang mampu menolak pinangan Baginda Hayam Wuruk yang perkasa, tampan, dan merupakan penguasai kerajaan terbesar di Nusantara?”

Padi Emas mengangguk. Beberapa purnama lalu dia pernah mendengar kabar tentang pinangan yang diajukan Baginda Hayam Wuruk, yang bermaksud memperistri dan menjadikan putri Sunda Galuh, Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai permaisuri. Kabar tentang kecantikan putri Dyah Pitaloka telah tersebar ke berbagai penjuru negeri dan banyak yang menganggapnya sebagai pasangan yang sepadan untuk Baginda Penguasa Majapahit.

Jadi, ini rupanya alasan kenapa banyak prajurit yang menyamar dan berdiri di sekitar Lapangan Bubat. Tapi kenapa aura membunuhnya sangat besar?

Padi Emas kembali mengawasi sekeliling. Bukan hanya prajurit menyamar yang mengelilingi Lapangan Bubat. Namun juga barisan pendam yang terdiri atas beberapa kelompok. Di sebuah bukit di kejauhan terlihat beberapa orang yang menunggang kuda, dalam formasi menunggu.

Padi Emas merogoh kantongnya, mengeluarkan sebuah tabung berwarna perak yang panjangnya sejengkal. Tabung ini pemberian seorang saudagar asal Persia. Padi Emas mendekatkan tabung itu ke mata kanannya. Jemarinya memutar kepala tabung. Sosok penunggang kuda di bukit itu kini terlihat jelas, seperti berada beberapa tombak di dekatnya. Tabung ajaib ini memang bisa memperbesar obyek di kejauhan. Dan tanpa sadar Padi Emas merinding. Dia mengenali kedelapan sosok yang duduk diam di atas kuda itu. Mereka adalah Bhayangkara Biru, dipimpin ketuanya Bhagawan Buriswara!!

Kenapa Bhayangkara Biru juga ikut mengawasi Lapangan Bubat? Sejauh yang dia tahu, Bhayangkara Biru bertugas mengejar penjahat yang lolos dari jeratan hukum. Namun kenapa mereka ikut mengawasi Lapangan Bubat? Apakah ini ada hubungannya dengan kedatangan Kerajaan Sunda Galuh?

Padi Emas mereguk tuak dalam sekali tarikan nafas. Dia mengangsurkan gelas bambu yang kosong kepada si gadis. Masih dengan senyum manis gadis itu menuangkan tuak.

Padi Emas merasakan aliran hawa yang panas di dada. Tuak ini walau manis namun cukup keras. Tubuhnya mulai terasa hangat. Dia kembali mengawasi. Padi Emas memutuskan akan berada di tempat ini hingga rombongan Kerajaan Galuh tiba.

***



“Aku tidak menyukai ini...”

“Kau telah lima kali mengatakannya, Sancaka. Dan kami juga telah mendengarnya...”

“Iya. Aku telah lima kali mengatakannya, dan aku akan mengulangi untuk kali keenam. Aku tidak menyukai ini...”

“Tapi bukankah kau memang tidak menyukai apapun, Sancaka?”

“Aku serius, Brontoseno. Bukan ini yang aku harapkan ketika pertama kali bergabung dengan Bhayangkara Biru. Aku bergabung untuk menghajar penjahat. Dan aku yakin, kalian semua setuju bahwa rombongan Kerajaan Galuh bukanlah penjahat...”

Diam. Tak ada yang menimpali ucapan Sancaka. Hanya desir angin yang perlahan mengoyang dedaunan.

“Kita adalah prajurit, Sancaka. Tugas kita bukanlah melakukan yang kita sukai tapi melaksanakan perintah...”

“Aku tahu hal itu, Bayu Segara. Kita ini prajurit yang tugasnya melaksanakan perintah. Namun kita bukanlah wayang yang tak punya hati...”

Bayu Segara tak menyahut. Mereka kembali terdiam. Yang terdengar hanya desir angin yang masih menggoyang dedaunan.

Nyaris serempak, lima lelaki dan dua perempuan itu melirik ke sosok perkasa yang berada dua tombak di depan mereka. Lelaki yang sejak tadi hanya berdiam diri. Bhagawan Buriswara.

Bhagawan Buriswara masih menatap Lapangan Bubat. Wajahnya keruh. Dia bukannya tak mengerti arah pembicaraan anak buahnya.

Sejak awal, sejak hari pertama terbentuknya Bhayangkara Biru, dia memang sengaja memberi keleluasan kepada anggotanya untuk bicara terbuka. Untuk menyampaikan uneg-uneg yang mengganjal di hati. Pekerjaan mereka berlandaskan saling percaya satu sama lain, dan itu hanya bisa terlaksana jika di antara mereka tak ada ganjalan.

Selama bertahun-tahun, baru sekali anak buahnya menentangnya dengan sengit. Dengan emosional. Yakni ketika dia memutuskan untuk mengejar dan menghabisi Dhanapati, anggota kelima yang mengundurkan diri. Dia ingat bagaimana emosionalnya mereka ketika dia mengungkap rencana itu. Setelah marah-marah, keenam anak buahnya berlutut hingga tubuh mereka nyaris rata dengan tanah, memohon dengan air mata bercucuran agar dia membatalkan rencana itu.

Namun keputusannya saat itu telah bulat. Dan sekalipun dengan hati terluka, keenam anak buahnya bisa menerima keputusan itu. Dan mereka juga bersedia melaksanakannya. Sebagai prajurit pilihan mereka tahu tugas mereka. Mereka menyadari posisi sebagai bawahan yang hanya melaksanakan perintah. Sekalipun bertentangan dengan nurani, mereka melakukannya dengan sepenuh hati.

Bhagawan Buriswara bukannya tidak tahu kalau anak buahnya menyimpan rasa bersalah ketika mereka mengepung Dhanapati. Saat bertarung, mereka nyaris tak pernah menatap dan beradu pandang dengan Dhanapati. Mereka bertarung sambil menatap tubuh, dan bukannya mata.

Kini, penolakan yang sama muncul ketika dia membeberkan rencana Yang Mulia Mahapatih. Kedatangan rombongan Galuh ke Trowulan akan dijadikan Mahapatih sebagai jembatan untuk merealisasikan mimpi yang tertunda. Yakni menyatukan Nusantara di bawah panji Majapahit. Sejauh ini, nyaris semua negara telah mengakui kebesaran Majapahit. Nyaris, karena masih ada dua wilayah yang belum terkalahkan. Yakni Kerajaan Galuh dan sebuah wilayah kecil bernama Malesung yang ada di sebelah utara.

Selama beberapa tahun terakhir, Kerajaan Galuh telah menjadi semacam bisul yang mengganggu. Berbeda dengan Malesung yang telah tercapai semacam kesepakatan,  Galuh sama sekali tidak tersentuh. Mahapatih Gajah Mada sudah beberapa kali mengirimkan pasukan terpilih guna menyerang Galuh. Namun semua serangan bisa dipatahkan dengan telak.

Begitu pinangan Yang Mulia Baginda diterima kerajaan Galuh, Mahapatih melihat ini sebagai peluang yang harus dimanfaatkan.
Dan sebentar lagi rombongan kerajaan Galuh yang membawa penganten akan tiba. Mimpi Mahapatih bahwa seluruh kerajaan di Nusantara akan bersatu di bawah panji Majapahit akan terwujud.

Tentu, untuk mewujudkan mimpi itu ada harga yang harus dibayar. Akan ada darah yang harus ditumpahkan. Dan hal ini yang ditentang anak buahnya.

Kesunyian dihentakkan oleh bunyi gong yang terdengar dari kejauhan. Gemanya terdengar seperti kidung patah hati.

“Mereka sudah tiba,” kata Buriswara. “Ingat, apa yang kita lakukan ini demi kebesaran Majapahit. Yang akan kita lakukan ini akan dikenang anak cucu kita hingga ratusan tahun mendatang.” Buriswara mencabut pedangnya, yang mengkilat terkena  Sang Surya.

maut-mengintip

Kilatan pedang itu seperti seringai maut yang mengintip di Lapangan Bubat. (bersambung)

3 Comments:

  1. mechta said...
    sayangnya...ratusan tahun kemudian, kenangan yg ada akan peristiwa ini, tak seindah yg diharapkan...
    tejo said...
    Sayang sekali tidak berlanjut epic ini. Masih menunggu kelanjutan nya....#hadir
    Ali Mundir said...
    Iya..
    Tetap setia menunggu..

    Silent reader..

Post a Comment